Pendakian Spritual

Pendakian Spritual
ALLAH SWT - MANUSIA - ALAM

Rabu, 02 Maret 2011

Siapa yang mencari Tuhan dengan akal sebagai petunjuknya, Tuhan akan mendorongnya ke arah kebingungan yang sia-sia (Al Hallaj) oleh Barzakh Zoel Kompas pada 23 Februari 2011 jam 5:50 Siapa yang mencari Tuhan dengan akal sebagai petunjuknya, Tuhan akan mendorongnya ke arah kebingungan yang sia-sia (Al Hallaj) Penggalan puisi dari tokoh besar sufi di atas menerangkan betapa sulitnya seorang hamba untuk mencari Tuhan dengan yang sebenar-benarnya, bila hanya dengan akal belaka. Sebab satu-satunya petunjuk menuju Tuhan adalah Tuhan sendiri. Hal tersebut dapat dilihat tatkala Tuhan menciptakan akal. Kemudian Tuhan bertanya: ”Siapakah Aku ini?” Maka akal pun bungkam. Karena itu Dia mengolesinya (secara harfiah, ”diolesei celak mata”) dengan cahaya ke Esaan (Wahdaniyah). Setelah itu, akal seraya berkata: ”Engkaulah Tuhan, tiada Tuhan selain Engkau.” Dengan begitu, akal tidak memiliki kemampuan untuk mengenal Tuhan, kecuali lewat perantaraan Dia sendiri. Akal, menurut pemberian Ibn Atha, merupakan alat untuk mencapai segala sesuatu yang berhubungan dengan hamba, bukan untuk mencapai Tuhan. Dengan kata lain, bahwa untuk dapat mencapai Tuhan, dibutuhkan suatu petunjuk (hidayah). Dan ini harus di mohonkan, sedangkan permohonan kepada Allah itu pun sudah merupakan hidayah, yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-Nya Oleh karena itu, tidak sedikit umat Islam yang kemudian melirik pada ajaran yang disebut tarekat. Yakni ajaran yang menekankan keseimbangan kehidupan, lahiriah dan batiniyah. Secara harfiah, tarekat (al-thoriqoh) berarti jalan, cara, atau metode untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta, taqarruban ilallah yang sumbernya firman Allah: ”… Untuk tiap umat di antara kamu, Kami berikan jalan (tata cara pelaksanaanya) yang terang….” (QS. Al Maidah: 48) . Dan firman-Nya lagi, ”Barang siapa berusaha dengan sungguh-sungguh (mujahadah) mencapai Kami (Tuhan), benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” (QS. Al Ankabut: 69). Tarekat dapat juga dimaksudkan menjalankan kewajiban agama dengan cara lebih berhati-hati, dengan menjauhkan hal-hal yang subhat dan melakukan keutamaan-keutamaan ibadah sunah, setelah menjalankan ibadah wajib, seperti shalat tahajjud, shalat dhuha, shalat witir, shalat rawatib, puasa sunah, membaca Al Qur’an, bershalawat, dzikir, tasbih dan seterusnya. Konsepsi tarekat tentang hidup tidak lepas dari konsepsi tasawuf pada umumnya. Tarekat merupakan bagian integritas dalam bentuk konstruktif, dan ditata menurut kadar psikologi manusia. Dalam tarekat ada aturan main. Yaitu mewujudkan sikap hidup batiniah yang merasakan kehadiran Allah dalam hati. caranya dengan mengosongkan hati dari segala makhluk. Artinya, tarekat mempunyai konsepsi: kehidupan yang sebenarnya adalah hak dan milik Allah semata. Oleh karenanya, perbuatan ibadah manusia kepada Allah, harus tenggelam dalam samudera ke-Esaan-Nya (fii lujjati bahril wahdah). Hilang segala cirri pribadinya. Lebur dalam perasaan cinta (mahabbah) kepada Allah. Dari sini sudah jelas bahwa tarekat merupakan polarisasi dari Islam, bukan suatu penyimpangan atau perbuatan yang di buat-buat dan sia-sia. Karena seorang ahli tarekat, dalam menjalankan ibadah, akan tetap berpegang pada doktrin-doktrin Islam sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi SAW. Kendati demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya penyimpangan dalam ajaran tarekat. Ada lima pokok yang perlu diperhatikan oleh penganut tarekat dari semua tarekat yang ada. Pertama, memperlajari ilmu pengetahuan yang terkait dengan pelaksanaan semua perintah yang baik yang sunah maupun yang wajib. Kedua, mendampingi guru-guru atau mursyid dan teman se-tarekat untuk melihat bagaimana cara melakukan sesuatu ibadah. Ketiga, meninggalkan segala rukhsah (kemudahan) dan takwil (utak-atik) untuk menjaga kesempurnaan amal. Keempat, menjaga dan mempergunakan waktu dan mengisinya dengan segala wirid dan doa untuk mempertebal khusyu’ dan hudur (kehadiran). Dan Kelima, mengekang hawa nafsu dan selalu menjaga diri dari kesalahan. Ilmu dan amal dibagi dalam empat tingkat: syariat, tarekat, hakekat, danmakrifat. Tak satupun ulama sufi yang ajaran dan tarekatnya mendapat pengakuan, kalau ulama itu memperbolehkan penganutnya mengerjakan hanya salah satu dari empat tingkatan itu. Sebab, keempat tingkatan tersebut merupakan pelaksanaan agama Islam yang sempurna dan dilakukan secara professional. Syareat merupakan uraian, tarekat adalah pelaksanaan,hakekat ialah keadaan, dan makrifat adalah tujuan pokok, yakni pengenalan Allah yang sebenar-benarnya. Kedudukan syaikh atau guru sangat penting dalam tarekat. Sebab ia tidak saja merupakan seorang pemimpin yang mengawasi murid-muridnya, agar tidak menyimpang dari ajaran Islam, tetapi juga merupakan perantara ibadah antara murid dengan Allah. Oleh sebab itu, jabatan ini tidak dapat dipangku sembarang orang, meski memiliki pengetahuan tentang tarekat. Yang penting, ia harus mempunyai kebersihan rohani atau orang yang mendapat amanat untuk membimbing murid-murid dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti Syaikh Ahmad Al-Alawi, misalnya. Syaikh Ahmad Al-Alawi, beberapa hari sebelum gurunya wafat, Syaikh Sidi Muhammad Al-Al Buzdi, dalam tidurnya melihat seseorang masuk menuju ketempat ia duduk. Kemudian ia berdiri untuk menghormatinya dan mempersilahkan duduk sehingga keduanya duduk saling berhadapan. Tapi setelah Syaikh Al-Alawi melihatnya dengan jelas, ternyata orang yang berhadapan denganya adalah Rasulullah SAW. Rupanya itulah yang membuat Syaikh Al-Alawi tertunduk terdiam, serasa menyesal karena tidak menghormati sebagaimana mestinya, sampai Nabi bersabda: ”Tak tahukah kau mengapa aku datang kepadamu?” Ia menjawab: ”Saya tak tahu mengapa, wahai Rasulullah.” Dan Nabi SAW pun bersabda: ”Sultan timur telah meninggal dunia, dan insya Allah kau akan menggantikanya menjadi sultan. Apa pendapatmu?” Syaikh itupun menjawab: ”Jika saya diberi kedudukan yang tinggi ini, siapa yang akan membantu saya, dan siapa yang akan mengikuti saya?” Lalu Nabi SAW menjawab:“Aku akan bersamamu, dan akan membantumu.” Mendengar jawaban seperti itu, Syaikh Al-Alawi diam sehingga Nabi beranjak meninggalkanya. Syaikh Al-Alawi pun bangkit mengikuti kepergian Rasulullah, dan seakan-akan melihatnya terakhir kali, saat Nabi SAW pergi, dengan mata terbuka dan terjaga. Kedudukan murid dalam tarekat tidak hanya berkewajiban mempelajari segala sesuatu yang diajarkan, tapi juga harus taat pada beberapa akhlak yang ditentukan untuknya. Seorang murid tidak boleh sekali-kali menentang gurunya. Ia harus membesarkan kedudukan guru, baik lahir maupn batin. Seorang murid juga harus yakin bahwa tujuanya akan tercapai karena bimbingan gurunya. Oleh karena itu tidak boleh terpengaruh pada guru lain. Karena kalau sampai terpengaruh, maka akan menjauhkan ia dari mursyidnya. Dan si murid tadi tidak akan mendapat percikan“cahaya” (nadroh) sang guru. Begitu patuh dan taatnya seorang murid tarekat, samapi ia tidak bisa menolak apa yang diperintahkan gurunya. Meskipun semua itu pada lahirnya tidak cocok dengan isis hatinya. Murid tarekat juga tidak boleh bertanya, apa sebab gurunya berbuat demikian. Sikap dari seorang guru terkadang terlihat suatu gambaran yang kontra secara lahiriyah, namun secara batiniah itu adalah tindakan tepuji, seperti yang pernah terjadi pada Nabi Musa AS terhadap Nabi Khidir AS. Mereka yang akan menggabungkan diri pada suatu tarekat hendaklah mengetahuinisbah atau hubungan guru-gurunya itu secara berantai sampai kepada Nabi SAW. Hal ini penting karena bantuan kerohanian yang diambil dari guru-gurunya tadi harus benar. Jika tidak benar (tidak berhubungan) sampai kepada Nabi SAW, maka bantuan itu dianggap putus dan tidak merupakan warisan (warotsah) dari Nabi SAW. Kemudian si murid tadi akan tersesat, tidak sampai pada tujuan, sebab syetan dapat masuk pada amalanya itu. Hal ini sangat berbeda dengan amalan shalawat yang digunakan untuk sarana atau jalan menuju wushul (sampai) kepada Allah. Sebab guru atau mursyid dari amalan shalawat itu ialah Shahibus shalawat itu sendiri, yakni Rasulullah SAW. Silsilah itu merupakan hubungan nama-nama yang sangat penting yang bertalian satu dengan yang lain hingga sampai pada Nabi SAW. Silsilah yang sampai kepada Nabi itu ada yang melalui Abu Bakar RA, ada juga yang melalui Ali Bin Abi Thalib KW wa RA, Anas bin Malik RA atau sahabat yang lainya. Dari Nabi beralanjut ke Malaikat Jibril AS dan kemudian kepada Allah SWT. Jika seorang mursyid mempunyai silsilah semacam itu, maka ia berhak mengajar tarekat pada orang lain. Syaikh Tarekat Sammaniyah misalnya, harus sampai kepada Muhammad Samman, yang kemudian kepada sahabat dan kemudian kepada Nabi. Demikian pula dari tarekat-tarekat yang lainya. Dalam tarekat juga dikenal istilah wasilah atau wushul yang artinya perantara atau hubungan. Hal tersebut dilandasi oleh firman Allah: ”Carilah wasilah (perantara) yang (dapat) mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al Maidah; 35). Kemudian diambil pula perbandingan kisah Nabi SAW Mi’raj ke langit menjumpai Allah yang diantar oleh Malaikat Jibril. Mengantarnya Jibril ini dianggap wasilah. Disinilah ahli tarekat mengambil ibarat, bahwa mereka sebaiknya berwasilah kepada guru saat beribadah kepada Allah. Sehingga wasilah mempunyai arti khusus, yaitu jalan yang menyampaikan hambanya kepada Allah SWT. Tarekat Naqsabandiyah mengartikan hakikat wasilah dengan tabaruk atau ‘mengambil barokah‘. Dan ini dikerjakan oleh murid-murid Syaikh An-Naqsabandi sebelum melakukan dzikir semacam ini, ”Yaa Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan berkat Rasulullah SAW dan berkat guruku, agar engkau memberikan daku makrifat dan cinta kasih hatiku kepadamu.” (Kalau di Wahidiyah, redaksinya; Allahumma bihaqqismikal a’dham, wa bijaahi Sayyidina Muhammad SAW wa bibarokati Ghoutsi Hadzaz Zaman, wa a’waanihi wa sa-iri auliya-ika ya Allah, ya Allah, ya Allah radliallahu ta’ala ‘anhum). Memang banyak aliran-aliran tarekat. Ada tarekat yang merupakan induk, yang diciptakan oleh tokoh tasawuf aqidah. Ada juga tarekat yang merupakan pecahan dari tarekat induk. Biasanya, ini sudah dipengaruhi oleh pendapat para Syaikh tarekat atau keadaan setempat atau keadaan bangsa yang menganut tarekat itu, yang tentunya memiliki corak dan ciri yang berbeda pula. Contohnya, penganut Tarekat Maulawiyah yang di dirikan oleh Syaikh Jalaludin Rumi yang lebih dikenal di Barat sebagai ”The Whirling Dervishes” (Darwisy –penganut tarekat – yang menari-nari berputar-putar). Dan gerakan-gerakan dalam tarian itu merupakan tarian tradisional setempat yang secara turun temurun telah mendarah daging dalam diri murid-muridnya dan menjadi daya tarik langsung bagi mereka. Dari sekian banyak tarekat, intinya tak lain untuk mencapai (memperoleh) makrifat atau menuju wushul kepada Allah SWT. Inilah akhir perjalanan mereka dan berada dalam derajat paling tinggi kesempurnaan manusia setalah Nabi. Jika seorang hamba sudah sampai kepada kedudukan semacam ini, niscaya ia akan luruh (lebur) segala indera-inderanya. Yang ada hanya ke-Esaan-Nya semata, seperti disebutkan Hadits Qudsi: ”Hamba-Ku tak henti-hentinya mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan kepatuhan ikhlasnya (diluar ibadah wajib, yaitu sunah), sehingga Aku mencintainya. Dan bilamana Aku telah mencintainya; Aku Adalah Pendengaranya, yang denganya ia mendengar; dan Penglihatanya, yang dengan ia melihat; dan lidahnya, yang denganya ia berucap; dan Tanganya, yang denganya ia memikul; dan Kakinya, yang denganya ia berjalan.” Dari hadits Qudsi diatas, tak dapat dibayangkan bagaimana kedekatan Tuhan kepada hamba-Nya. Sebagaimana Allah berfirman: ”Kami (Tuhan) lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya.” (QS. 50: 16). Dengan begitu, sahabat Abu Ubaidah RA, mengatakan; ”Aku tidak pernah melihat sesuatu tanpa melihat Tuhan lebih dekat kepadaku daripada sesuatu itu.” Inilah yang disebut makrifat. Melalui shalawat Wahidiyah yang memiliki Faedah menjernihkan hati dan makrifat Billah, kita di tuntun untuk mendekatkan kepada Allah. Kedekatan yang lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Bahkan jika kita mampu menerapkan Lillah dan Billah, yakni dalam melaksanakan segala perintah senantiasa berlandaskan perintah Allah, dan menyadari segala gerak-gerik lahir dan batin, adalah atas kehendak Sang Maha Pencipta, kita termasuk muqarrabun (orang-orang yang dekat dengan Allah). Shalawat Wahidiyah ditaklif (disusun) oleh Asy Syaikh Arif Billah Mbah KH. Abdul Madjid Ma’ruf, Qaddassallah Sirroh Radhliyallahu Anhu pada tahun 1963. Setelah beliau mendapat petunjuk langsung dari Rasulullah SAW, dalam keadaan sadar dan terjaga. Bahkan amalan ini jauh lebih praktis dan mudah. Sebagaimana di dawuhkan oleh mualifnya sendiri sebagaimana difatwakan oleh Hadratul Mukarrom Romo KH. Abdul Latif Madjid RA, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah pada HUT Shalawat Wahidiyah ke 34 beberapa tahun silam: ”Kalau ada amalan yang lebih mudah untuk wushul kepada Allah saat ini, selain amalan Wahidiyah, maka Mbah Yahi sanggup (bersedia) ikut dibelakangnya bersama seluruh Pengamal Shalawat Wahidiyah.” Yang dimaksudkan amalan Wahidiyah disini tentunya tidak hanya sebatas mengamalkan shalawatnya, tetapi dalam prakteknya, juga harus mengaplikasikan ajaranya: Lillah-Billah, Lirrasul-Birrasul, Lilghouts-Bilghouts, Yuktikulladzi haqqin Haqqah, dan Taqdiimul fal aham tsumal Anfa’ fal Anfa’ di setiap aktifitas secara proposional serta menjaga adab, baik lahir maupun batin dengan sebaik baiknya.*

Siapa yang mencari Tuhan dengan akal sebagai petunjuknya, Tuhan akan mendorongnya ke arah kebingungan yang sia-sia (Al Hallaj)

Siapa yang mencari Tuhan dengan akal sebagai petunjuknya, Tuhan akan mendorongnya ke arah kebingungan yang sia-sia (Al Hallaj)

Penggalan puisi dari tokoh besar sufi di atas menerangkan betapa sulitnya seorang hamba untuk mencari Tuhan dengan yang sebenar-benarnya, bila hanya dengan akal belaka. Sebab satu-satunya petunjuk menuju Tuhan adalah Tuhan sendiri.

Hal tersebut dapat dilihat tatkala Tuhan menciptakan akal. Kemudian Tuhan bertanya: ”Siapakah Aku ini?” Maka akal pun bungkam. Karena itu Dia mengolesinya (secara harfiah, ”diolesei celak mata”) dengan cahaya ke Esaan (Wahdaniyah). Setelah itu, akal seraya berkata: ”Engkaulah Tuhan, tiada Tuhan selain Engkau.” Dengan begitu, akal tidak memiliki kemampuan untuk mengenal Tuhan, kecuali lewat perantaraan Dia sendiri.

Akal, menurut pemberian Ibn Atha, merupakan alat untuk mencapai segala sesuatu yang berhubungan dengan hamba, bukan untuk mencapai Tuhan. Dengan kata lain, bahwa untuk dapat mencapai Tuhan, dibutuhkan suatu petunjuk (hidayah). Dan ini harus di mohonkan, sedangkan permohonan kepada Allah itu pun sudah merupakan hidayah, yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-Nya

Oleh karena itu, tidak sedikit umat Islam yang kemudian melirik pada ajaran yang disebut tarekat. Yakni ajaran yang menekankan keseimbangan kehidupan, lahiriah dan batiniyah.

Secara harfiah, tarekat (al-thoriqoh) berarti jalan, cara, atau metode untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta, taqarruban ilallah yang sumbernya firman Allah:
    ”… Untuk tiap umat di antara kamu, Kami berikan jalan (tata cara pelaksanaanya) yang terang….” (QS. Al Maidah: 48)
. Dan firman-Nya lagi,
    ”Barang siapa berusaha dengan sungguh-sungguh (mujahadah) mencapai Kami (Tuhan), benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” (QS. Al Ankabut: 69).

Tarekat dapat juga dimaksudkan menjalankan kewajiban agama dengan cara lebih berhati-hati, dengan menjauhkan hal-hal yang subhat dan melakukan keutamaan-keutamaan ibadah sunah, setelah menjalankan ibadah wajib, seperti shalat tahajjud, shalat dhuha, shalat witir, shalat rawatib, puasa sunah, membaca Al Qur’an, bershalawat, dzikir, tasbih dan seterusnya.

Konsepsi tarekat tentang hidup tidak lepas dari konsepsi tasawuf pada umumnya. Tarekat merupakan bagian integritas dalam bentuk konstruktif, dan ditata menurut kadar psikologi manusia.

Dalam tarekat ada aturan main. Yaitu mewujudkan sikap hidup batiniah yang merasakan kehadiran Allah dalam hati. caranya dengan mengosongkan hati dari segala makhluk. Artinya, tarekat mempunyai konsepsi: kehidupan yang sebenarnya adalah hak dan milik Allah semata. Oleh karenanya, perbuatan ibadah manusia kepada Allah, harus tenggelam dalam samudera ke-Esaan-Nya (fii lujjati bahril wahdah). Hilang segala cirri pribadinya. Lebur dalam perasaan cinta (mahabbah) kepada Allah.

Dari sini sudah jelas bahwa tarekat merupakan polarisasi dari Islam, bukan suatu penyimpangan atau perbuatan yang di buat-buat dan sia-sia. Karena seorang ahli tarekat, dalam menjalankan ibadah, akan tetap berpegang pada doktrin-doktrin Islam sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi SAW. Kendati demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya penyimpangan dalam ajaran tarekat.

Ada lima pokok yang perlu diperhatikan oleh penganut tarekat dari semua tarekat yang ada.
    Pertama, memperlajari ilmu pengetahuan yang terkait dengan pelaksanaan semua perintah yang baik yang sunah maupun yang wajib.Kedua, mendampingi guru-guru atau mursyid dan teman se-tarekat untuk melihat bagaimana cara melakukan sesuatu ibadah. Ketiga, meninggalkan segala rukhsah (kemudahan) dan takwil (utak-atik) untuk menjaga kesempurnaan amal. Keempat, menjaga dan mempergunakan waktu dan mengisinya dengan segala wirid dan doa untuk mempertebal khusyu’ dan hudur (kehadiran). Dan Kelima, mengekang hawa nafsu dan selalu menjaga diri dari kesalahan.

Ilmu dan amal dibagi dalam empat tingkat: syariat, tarekat, hakekat, danmakrifat. Tak satupun ulama sufi yang ajaran dan tarekatnya mendapat pengakuan, kalau ulama itu memperbolehkan penganutnya mengerjakan hanya salah satu dari empat tingkatan itu. Sebab, keempat tingkatan tersebut merupakan pelaksanaan agama Islam yang sempurna dan dilakukan secara professional. Syareat merupakan uraian, tarekat adalah pelaksanaan,hakekat ialah keadaan, dan makrifat adalah tujuan pokok, yakni pengenalan Allah yang sebenar-benarnya.

Kedudukan syaikh atau guru sangat penting dalam tarekat. Sebab ia tidak saja merupakan seorang pemimpin yang mengawasi murid-muridnya, agar tidak menyimpang dari ajaran Islam, tetapi juga merupakan perantara ibadah antara murid dengan Allah. Oleh sebab itu, jabatan ini tidak dapat dipangku sembarang orang, meski memiliki pengetahuan tentang tarekat. Yang penting, ia harus mempunyai kebersihan rohani atau orang yang mendapat amanat untuk membimbing murid-murid dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti Syaikh Ahmad Al-Alawi, misalnya.

Syaikh Ahmad Al-Alawi, beberapa hari sebelum gurunya wafat, Syaikh Sidi Muhammad Al-Al Buzdi, dalam tidurnya melihat seseorang masuk menuju ketempat ia duduk. Kemudian ia berdiri untuk menghormatinya dan mempersilahkan duduk sehingga keduanya duduk saling berhadapan. Tapi setelah Syaikh Al-Alawi melihatnya dengan jelas, ternyata orang yang berhadapan denganya adalah Rasulullah SAW.

Rupanya itulah yang membuat Syaikh Al-Alawi tertunduk terdiam, serasa menyesal karena tidak menghormati sebagaimana mestinya, sampai Nabi bersabda:
    ”Tak tahukah kau mengapa aku datang kepadamu?” Ia menjawab: ”Saya tak tahu mengapa, wahai Rasulullah.” Dan Nabi SAW pun bersabda: ”Sultan timur telah meninggal dunia, dan insya Allah kau akan menggantikanya menjadi sultan. Apa pendapatmu?” Syaikh itupun menjawab: ”Jika saya diberi kedudukan yang tinggi ini, siapa yang akan membantu saya, dan siapa yang akan mengikuti saya?” Lalu Nabi SAW menjawab:“Aku akan bersamamu, dan akan membantumu.”

Mendengar jawaban seperti itu, Syaikh Al-Alawi diam sehingga Nabi beranjak meninggalkanya. Syaikh Al-Alawi pun bangkit mengikuti kepergian Rasulullah, dan seakan-akan melihatnya terakhir kali, saat Nabi SAW pergi, dengan mata terbuka dan terjaga.

Kedudukan murid dalam tarekat tidak hanya berkewajiban mempelajari segala sesuatu yang diajarkan, tapi juga harus taat pada beberapa akhlak yang ditentukan untuknya.

Seorang murid tidak boleh sekali-kali menentang gurunya. Ia harus membesarkan kedudukan guru, baik lahir maupn batin. Seorang murid juga harus yakin bahwa tujuanya akan tercapai karena bimbingan gurunya. Oleh karena itu tidak boleh terpengaruh pada guru lain. Karena kalau sampai terpengaruh, maka akan menjauhkan ia dari mursyidnya. Dan si murid tadi tidak akan mendapat percikan“cahaya” (nadroh) sang guru.

Begitu patuh dan taatnya seorang murid tarekat, samapi ia tidak bisa menolak apa yang diperintahkan gurunya. Meskipun semua itu pada lahirnya tidak cocok dengan isis hatinya. Murid tarekat juga tidak boleh bertanya, apa sebab gurunya berbuat demikian. Sikap dari seorang guru terkadang terlihat suatu gambaran yang kontra secara lahiriyah, namun secara batiniah itu adalah tindakan tepuji, seperti yang pernah terjadi pada Nabi Musa AS terhadap Nabi Khidir AS.

Mereka yang akan menggabungkan diri pada suatu tarekat hendaklah mengetahuinisbah atau hubungan guru-gurunya itu secara berantai sampai kepada Nabi SAW. Hal ini penting karena bantuan kerohanian yang diambil dari guru-gurunya tadi harus benar. Jika tidak benar (tidak berhubungan) sampai kepada Nabi SAW, maka bantuan itu dianggap putus dan tidak merupakan warisan (warotsah) dari Nabi SAW. Kemudian si murid tadi akan tersesat, tidak sampai pada tujuan, sebab syetan dapat masuk pada amalanya itu. Hal ini sangat berbeda dengan amalan shalawat yang digunakan untuk sarana atau jalan menuju wushul (sampai) kepada Allah. Sebab guru atau mursyid dari amalan shalawat itu ialah Shahibus shalawat itu sendiri, yakni Rasulullah SAW.

Silsilah itu merupakan hubungan nama-nama yang sangat penting yang bertalian satu dengan yang lain hingga sampai pada Nabi SAW. Silsilah yang sampai kepada Nabi itu ada yang melalui Abu Bakar RA, ada juga yang melalui Ali Bin Abi Thalib KW wa RA, Anas bin Malik RA atau sahabat yang lainya. Dari Nabi beralanjut ke Malaikat Jibril AS dan kemudian kepada Allah SWT.

Jika seorang mursyid mempunyai silsilah semacam itu, maka ia berhak mengajar tarekat pada orang lain. Syaikh Tarekat Sammaniyah misalnya, harus sampai kepada Muhammad Samman, yang kemudian kepada sahabat dan kemudian kepada Nabi. Demikian pula dari tarekat-tarekat yang lainya.

Dalam tarekat juga dikenal istilah wasilah atau wushul yang artinya perantara atau hubungan. Hal tersebut dilandasi oleh firman Allah:
    ”Carilah wasilah (perantara) yang (dapat) mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al Maidah; 35).
Kemudian diambil pula perbandingan kisah Nabi SAW Mi’raj ke langit menjumpai Allah yang diantar oleh Malaikat Jibril. Mengantarnya Jibril ini dianggap wasilah. Disinilah ahli tarekat mengambil ibarat, bahwa mereka sebaiknya berwasilah kepada guru saat beribadah kepada Allah. Sehingga wasilah mempunyai arti khusus, yaitu jalan yang menyampaikan hambanya kepada Allah SWT.

Tarekat Naqsabandiyah mengartikan hakikat wasilah dengan tabaruk atau ‘mengambil barokah‘. Dan ini dikerjakan oleh murid-murid Syaikh An-Naqsabandi sebelum melakukan dzikir semacam ini,
    ”Yaa Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan berkat Rasulullah SAW dan berkat guruku, agar engkau memberikan daku makrifat dan cinta kasih hatiku kepadamu.” (Kalau di Wahidiyah, redaksinya; Allahumma bihaqqismikal a’dham, wa bijaahi Sayyidina Muhammad SAW wa bibarokati Ghoutsi Hadzaz Zaman, wa a’waanihi wa sa-iri auliya-ika ya Allah, ya Allah, ya Allah radliallahu ta’ala ‘anhum).

Memang banyak aliran-aliran tarekat. Ada tarekat yang merupakan induk, yang diciptakan oleh tokoh tasawuf aqidah. Ada juga tarekat yang merupakan pecahan dari tarekat induk. Biasanya, ini sudah dipengaruhi oleh pendapat para Syaikh tarekat atau keadaan setempat atau keadaan bangsa yang menganut tarekat itu, yang tentunya memiliki corak dan ciri yang berbeda pula. Contohnya, penganut Tarekat Maulawiyah yang di dirikan oleh Syaikh Jalaludin Rumi yang lebih dikenal di Barat sebagai ”The Whirling Dervishes” (Darwisy –penganut tarekat – yang menari-nari berputar-putar). Dan gerakan-gerakan dalam tarian itu merupakan tarian tradisional setempat yang secara turun temurun telah mendarah daging dalam diri murid-muridnya dan menjadi daya tarik langsung bagi mereka.

Dari sekian banyak tarekat, intinya tak lain untuk mencapai (memperoleh) makrifat atau menuju wushul kepada Allah SWT. Inilah akhir perjalanan mereka dan berada dalam derajat paling tinggi kesempurnaan manusia setalah Nabi.

Jika seorang hamba sudah sampai kepada kedudukan semacam ini, niscaya ia akan luruh (lebur) segala indera-inderanya. Yang ada hanya ke-Esaan-Nya semata, seperti disebutkan Hadits Qudsi:
    ”Hamba-Ku tak henti-hentinya mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan kepatuhan ikhlasnya (diluar ibadah wajib, yaitu sunah), sehingga Aku mencintainya. Dan bilamana Aku telah mencintainya; Aku Adalah Pendengaranya, yang denganya ia mendengar; dan Penglihatanya, yang dengan ia melihat; dan lidahnya, yang denganya ia berucap; dan Tanganya, yang denganya ia memikul; dan Kakinya, yang denganya ia berjalan.”

Dari hadits Qudsi diatas, tak dapat dibayangkan bagaimana kedekatan Tuhan kepada hamba-Nya. Sebagaimana Allah berfirman:
    ”Kami (Tuhan) lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya.” (QS. 50: 16).
Dengan begitu, sahabat Abu Ubaidah RA, mengatakan;
    ”Aku tidak pernah melihat sesuatu tanpa melihat Tuhan lebih dekat kepadaku daripada sesuatu itu.”
Inilah yang disebut makrifat.

Melalui shalawat Wahidiyah yang memiliki Faedah menjernihkan hati dan makrifat Billah, kita di tuntun untuk mendekatkan kepada Allah. Kedekatan yang lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Bahkan jika kita mampu menerapkan Lillah dan Billah, yakni dalam melaksanakan segala perintah senantiasa berlandaskan perintah Allah, dan menyadari segala gerak-gerik lahir dan batin, adalah atas kehendak Sang Maha Pencipta, kita termasuk muqarrabun (orang-orang yang dekat dengan Allah).

Shalawat Wahidiyah ditaklif (disusun) oleh Asy Syaikh Arif Billah Mbah KH. Abdul Madjid Ma’ruf, Qaddassallah Sirroh Radhliyallahu Anhu pada tahun 1963. Setelah beliau mendapat petunjuk langsung dari Rasulullah SAW, dalam keadaan sadar dan terjaga.

Bahkan amalan ini jauh lebih praktis dan mudah. Sebagaimana di dawuhkan oleh mualifnya sendiri sebagaimana difatwakan oleh Hadratul Mukarrom Romo KH. Abdul Latif Madjid RA, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah pada HUT Shalawat Wahidiyah ke 34 beberapa tahun silam:
    ”Kalau ada amalan yang lebih mudah untuk wushul kepada Allah saat ini, selain amalan Wahidiyah, maka Mbah Yahi sanggup (bersedia) ikut dibelakangnya bersama seluruh Pengamal Shalawat Wahidiyah.”

Yang dimaksudkan amalan Wahidiyah disini tentunya tidak hanya sebatas mengamalkan shalawatnya, tetapi dalam prakteknya, juga harus mengaplikasikan ajaranya: Lillah-Billah, Lirrasul-Birrasul, Lilghouts-Bilghouts, Yuktikulladzi haqqin Haqqah, dan Taqdiimul fal aham tsumal Anfa’ fal Anfa’ di setiap aktifitas secara proposional serta menjaga adab, baik lahir maupun batin dengan sebaik baiknya.*
oleh Barzakh Zoel Kompas pada 23 Februari 2011 jam 5:50
Siapa yang mencari Tuhan dengan akal sebagai petunjuknya, Tuhan akan mendorongnya ke arah kebingungan yang sia-sia (Al Hallaj)

Penggalan puisi dari tokoh besar sufi di atas menerangkan betapa sulitnya seorang hamba untuk mencari Tuhan dengan yang sebenar-benarnya, bila hanya dengan akal belaka. Sebab satu-satunya petunjuk menuju Tuhan adalah Tuhan sendiri.

Hal tersebut dapat dilihat tatkala Tuhan menciptakan akal. Kemudian Tuhan bertanya: ”Siapakah Aku ini?” Maka akal pun bungkam. Karena itu Dia mengolesinya (secara harfiah, ”diolesei celak mata”) dengan cahaya ke Esaan (Wahdaniyah). Setelah itu, akal seraya berkata: ”Engkaulah Tuhan, tiada Tuhan selain Engkau.” Dengan begitu, akal tidak memiliki kemampuan untuk mengenal Tuhan, kecuali lewat perantaraan Dia sendiri.

Akal, menurut pemberian Ibn Atha, merupakan alat untuk mencapai segala sesuatu yang berhubungan dengan hamba, bukan untuk mencapai Tuhan. Dengan kata lain, bahwa untuk dapat mencapai Tuhan, dibutuhkan suatu petunjuk (hidayah). Dan ini harus di mohonkan, sedangkan permohonan kepada Allah itu pun sudah merupakan hidayah, yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-Nya

Oleh karena itu, tidak sedikit umat Islam yang kemudian melirik pada ajaran yang disebut tarekat. Yakni ajaran yang menekankan keseimbangan kehidupan, lahiriah dan batiniyah.

Secara harfiah, tarekat (al-thoriqoh) berarti jalan, cara, atau metode untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta, taqarruban ilallah yang sumbernya firman Allah:
    ”… Untuk tiap umat di antara kamu, Kami berikan jalan (tata cara pelaksanaanya) yang terang….” (QS. Al Maidah: 48)
. Dan firman-Nya lagi,
    ”Barang siapa berusaha dengan sungguh-sungguh (mujahadah) mencapai Kami (Tuhan), benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” (QS. Al Ankabut: 69).

Tarekat dapat juga dimaksudkan menjalankan kewajiban agama dengan cara lebih berhati-hati, dengan menjauhkan hal-hal yang subhat dan melakukan keutamaan-keutamaan ibadah sunah, setelah menjalankan ibadah wajib, seperti shalat tahajjud, shalat dhuha, shalat witir, shalat rawatib, puasa sunah, membaca Al Qur’an, bershalawat, dzikir, tasbih dan seterusnya.

Konsepsi tarekat tentang hidup tidak lepas dari konsepsi tasawuf pada umumnya. Tarekat merupakan bagian integritas dalam bentuk konstruktif, dan ditata menurut kadar psikologi manusia.

Dalam tarekat ada aturan main. Yaitu mewujudkan sikap hidup batiniah yang merasakan kehadiran Allah dalam hati. caranya dengan mengosongkan hati dari segala makhluk. Artinya, tarekat mempunyai konsepsi: kehidupan yang sebenarnya adalah hak dan milik Allah semata. Oleh karenanya, perbuatan ibadah manusia kepada Allah, harus tenggelam dalam samudera ke-Esaan-Nya (fii lujjati bahril wahdah). Hilang segala cirri pribadinya. Lebur dalam perasaan cinta (mahabbah) kepada Allah.

Dari sini sudah jelas bahwa tarekat merupakan polarisasi dari Islam, bukan suatu penyimpangan atau perbuatan yang di buat-buat dan sia-sia. Karena seorang ahli tarekat, dalam menjalankan ibadah, akan tetap berpegang pada doktrin-doktrin Islam sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi SAW. Kendati demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya penyimpangan dalam ajaran tarekat.

Ada lima pokok yang perlu diperhatikan oleh penganut tarekat dari semua tarekat yang ada.
    Pertama, memperlajari ilmu pengetahuan yang terkait dengan pelaksanaan semua perintah yang baik yang sunah maupun yang wajib.Kedua, mendampingi guru-guru atau mursyid dan teman se-tarekat untuk melihat bagaimana cara melakukan sesuatu ibadah. Ketiga, meninggalkan segala rukhsah (kemudahan) dan takwil (utak-atik) untuk menjaga kesempurnaan amal. Keempat, menjaga dan mempergunakan waktu dan mengisinya dengan segala wirid dan doa untuk mempertebal khusyu’ dan hudur (kehadiran). Dan Kelima, mengekang hawa nafsu dan selalu menjaga diri dari kesalahan.

Ilmu dan amal dibagi dalam empat tingkat: syariat, tarekat, hakekat, danmakrifat. Tak satupun ulama sufi yang ajaran dan tarekatnya mendapat pengakuan, kalau ulama itu memperbolehkan penganutnya mengerjakan hanya salah satu dari empat tingkatan itu. Sebab, keempat tingkatan tersebut merupakan pelaksanaan agama Islam yang sempurna dan dilakukan secara professional. Syareat merupakan uraian, tarekat adalah pelaksanaan,hakekat ialah keadaan, dan makrifat adalah tujuan pokok, yakni pengenalan Allah yang sebenar-benarnya.

Kedudukan syaikh atau guru sangat penting dalam tarekat. Sebab ia tidak saja merupakan seorang pemimpin yang mengawasi murid-muridnya, agar tidak menyimpang dari ajaran Islam, tetapi juga merupakan perantara ibadah antara murid dengan Allah. Oleh sebab itu, jabatan ini tidak dapat dipangku sembarang orang, meski memiliki pengetahuan tentang tarekat. Yang penting, ia harus mempunyai kebersihan rohani atau orang yang mendapat amanat untuk membimbing murid-murid dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti Syaikh Ahmad Al-Alawi, misalnya.

Syaikh Ahmad Al-Alawi, beberapa hari sebelum gurunya wafat, Syaikh Sidi Muhammad Al-Al Buzdi, dalam tidurnya melihat seseorang masuk menuju ketempat ia duduk. Kemudian ia berdiri untuk menghormatinya dan mempersilahkan duduk sehingga keduanya duduk saling berhadapan. Tapi setelah Syaikh Al-Alawi melihatnya dengan jelas, ternyata orang yang berhadapan denganya adalah Rasulullah SAW.

Rupanya itulah yang membuat Syaikh Al-Alawi tertunduk terdiam, serasa menyesal karena tidak menghormati sebagaimana mestinya, sampai Nabi bersabda:
    ”Tak tahukah kau mengapa aku datang kepadamu?” Ia menjawab: ”Saya tak tahu mengapa, wahai Rasulullah.” Dan Nabi SAW pun bersabda: ”Sultan timur telah meninggal dunia, dan insya Allah kau akan menggantikanya menjadi sultan. Apa pendapatmu?” Syaikh itupun menjawab: ”Jika saya diberi kedudukan yang tinggi ini, siapa yang akan membantu saya, dan siapa yang akan mengikuti saya?” Lalu Nabi SAW menjawab:“Aku akan bersamamu, dan akan membantumu.”

Mendengar jawaban seperti itu, Syaikh Al-Alawi diam sehingga Nabi beranjak meninggalkanya. Syaikh Al-Alawi pun bangkit mengikuti kepergian Rasulullah, dan seakan-akan melihatnya terakhir kali, saat Nabi SAW pergi, dengan mata terbuka dan terjaga.

Kedudukan murid dalam tarekat tidak hanya berkewajiban mempelajari segala sesuatu yang diajarkan, tapi juga harus taat pada beberapa akhlak yang ditentukan untuknya.

Seorang murid tidak boleh sekali-kali menentang gurunya. Ia harus membesarkan kedudukan guru, baik lahir maupn batin. Seorang murid juga harus yakin bahwa tujuanya akan tercapai karena bimbingan gurunya. Oleh karena itu tidak boleh terpengaruh pada guru lain. Karena kalau sampai terpengaruh, maka akan menjauhkan ia dari mursyidnya. Dan si murid tadi tidak akan mendapat percikan“cahaya” (nadroh) sang guru.

Begitu patuh dan taatnya seorang murid tarekat, samapi ia tidak bisa menolak apa yang diperintahkan gurunya. Meskipun semua itu pada lahirnya tidak cocok dengan isis hatinya. Murid tarekat juga tidak boleh bertanya, apa sebab gurunya berbuat demikian. Sikap dari seorang guru terkadang terlihat suatu gambaran yang kontra secara lahiriyah, namun secara batiniah itu adalah tindakan tepuji, seperti yang pernah terjadi pada Nabi Musa AS terhadap Nabi Khidir AS.

Mereka yang akan menggabungkan diri pada suatu tarekat hendaklah mengetahuinisbah atau hubungan guru-gurunya itu secara berantai sampai kepada Nabi SAW. Hal ini penting karena bantuan kerohanian yang diambil dari guru-gurunya tadi harus benar. Jika tidak benar (tidak berhubungan) sampai kepada Nabi SAW, maka bantuan itu dianggap putus dan tidak merupakan warisan (warotsah) dari Nabi SAW. Kemudian si murid tadi akan tersesat, tidak sampai pada tujuan, sebab syetan dapat masuk pada amalanya itu. Hal ini sangat berbeda dengan amalan shalawat yang digunakan untuk sarana atau jalan menuju wushul (sampai) kepada Allah. Sebab guru atau mursyid dari amalan shalawat itu ialah Shahibus shalawat itu sendiri, yakni Rasulullah SAW.

Silsilah itu merupakan hubungan nama-nama yang sangat penting yang bertalian satu dengan yang lain hingga sampai pada Nabi SAW. Silsilah yang sampai kepada Nabi itu ada yang melalui Abu Bakar RA, ada juga yang melalui Ali Bin Abi Thalib KW wa RA, Anas bin Malik RA atau sahabat yang lainya. Dari Nabi beralanjut ke Malaikat Jibril AS dan kemudian kepada Allah SWT.

Jika seorang mursyid mempunyai silsilah semacam itu, maka ia berhak mengajar tarekat pada orang lain. Syaikh Tarekat Sammaniyah misalnya, harus sampai kepada Muhammad Samman, yang kemudian kepada sahabat dan kemudian kepada Nabi. Demikian pula dari tarekat-tarekat yang lainya.

Dalam tarekat juga dikenal istilah wasilah atau wushul yang artinya perantara atau hubungan. Hal tersebut dilandasi oleh firman Allah:
    ”Carilah wasilah (perantara) yang (dapat) mendekatkan diri kepada-Nya.” (Al Maidah; 35).
Kemudian diambil pula perbandingan kisah Nabi SAW Mi’raj ke langit menjumpai Allah yang diantar oleh Malaikat Jibril. Mengantarnya Jibril ini dianggap wasilah. Disinilah ahli tarekat mengambil ibarat, bahwa mereka sebaiknya berwasilah kepada guru saat beribadah kepada Allah. Sehingga wasilah mempunyai arti khusus, yaitu jalan yang menyampaikan hambanya kepada Allah SWT.

Tarekat Naqsabandiyah mengartikan hakikat wasilah dengan tabaruk atau ‘mengambil barokah‘. Dan ini dikerjakan oleh murid-murid Syaikh An-Naqsabandi sebelum melakukan dzikir semacam ini,
    ”Yaa Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan berkat Rasulullah SAW dan berkat guruku, agar engkau memberikan daku makrifat dan cinta kasih hatiku kepadamu.” (Kalau di Wahidiyah, redaksinya; Allahumma bihaqqismikal a’dham, wa bijaahi Sayyidina Muhammad SAW wa bibarokati Ghoutsi Hadzaz Zaman, wa a’waanihi wa sa-iri auliya-ika ya Allah, ya Allah, ya Allah radliallahu ta’ala ‘anhum).

Memang banyak aliran-aliran tarekat. Ada tarekat yang merupakan induk, yang diciptakan oleh tokoh tasawuf aqidah. Ada juga tarekat yang merupakan pecahan dari tarekat induk. Biasanya, ini sudah dipengaruhi oleh pendapat para Syaikh tarekat atau keadaan setempat atau keadaan bangsa yang menganut tarekat itu, yang tentunya memiliki corak dan ciri yang berbeda pula. Contohnya, penganut Tarekat Maulawiyah yang di dirikan oleh Syaikh Jalaludin Rumi yang lebih dikenal di Barat sebagai ”The Whirling Dervishes” (Darwisy –penganut tarekat – yang menari-nari berputar-putar). Dan gerakan-gerakan dalam tarian itu merupakan tarian tradisional setempat yang secara turun temurun telah mendarah daging dalam diri murid-muridnya dan menjadi daya tarik langsung bagi mereka.

Dari sekian banyak tarekat, intinya tak lain untuk mencapai (memperoleh) makrifat atau menuju wushul kepada Allah SWT. Inilah akhir perjalanan mereka dan berada dalam derajat paling tinggi kesempurnaan manusia setalah Nabi.

Jika seorang hamba sudah sampai kepada kedudukan semacam ini, niscaya ia akan luruh (lebur) segala indera-inderanya. Yang ada hanya ke-Esaan-Nya semata, seperti disebutkan Hadits Qudsi:
    ”Hamba-Ku tak henti-hentinya mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan kepatuhan ikhlasnya (diluar ibadah wajib, yaitu sunah), sehingga Aku mencintainya. Dan bilamana Aku telah mencintainya; Aku Adalah Pendengaranya, yang denganya ia mendengar; dan Penglihatanya, yang dengan ia melihat; dan lidahnya, yang denganya ia berucap; dan Tanganya, yang denganya ia memikul; dan Kakinya, yang denganya ia berjalan.”

Dari hadits Qudsi diatas, tak dapat dibayangkan bagaimana kedekatan Tuhan kepada hamba-Nya. Sebagaimana Allah berfirman:
    ”Kami (Tuhan) lebih dekat kepadanya (manusia) daripada urat lehernya.” (QS. 50: 16).
Dengan begitu, sahabat Abu Ubaidah RA, mengatakan;
    ”Aku tidak pernah melihat sesuatu tanpa melihat Tuhan lebih dekat kepadaku daripada sesuatu itu.”
Inilah yang disebut makrifat.

Melalui shalawat Wahidiyah yang memiliki Faedah menjernihkan hati dan makrifat Billah, kita di tuntun untuk mendekatkan kepada Allah. Kedekatan yang lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Bahkan jika kita mampu menerapkan Lillah dan Billah, yakni dalam melaksanakan segala perintah senantiasa berlandaskan perintah Allah, dan menyadari segala gerak-gerik lahir dan batin, adalah atas kehendak Sang Maha Pencipta, kita termasuk muqarrabun (orang-orang yang dekat dengan Allah).

Shalawat Wahidiyah ditaklif (disusun) oleh Asy Syaikh Arif Billah Mbah KH. Abdul Madjid Ma’ruf, Qaddassallah Sirroh Radhliyallahu Anhu pada tahun 1963. Setelah beliau mendapat petunjuk langsung dari Rasulullah SAW, dalam keadaan sadar dan terjaga.

Bahkan amalan ini jauh lebih praktis dan mudah. Sebagaimana di dawuhkan oleh mualifnya sendiri sebagaimana difatwakan oleh Hadratul Mukarrom Romo KH. Abdul Latif Madjid RA, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah pada HUT Shalawat Wahidiyah ke 34 beberapa tahun silam:
    ”Kalau ada amalan yang lebih mudah untuk wushul kepada Allah saat ini, selain amalan Wahidiyah, maka Mbah Yahi sanggup (bersedia) ikut dibelakangnya bersama seluruh Pengamal Shalawat Wahidiyah.”

Yang dimaksudkan amalan Wahidiyah disini tentunya tidak hanya sebatas mengamalkan shalawatnya, tetapi dalam prakteknya, juga harus mengaplikasikan ajaranya: Lillah-Billah, Lirrasul-Birrasul, Lilghouts-Bilghouts, Yuktikulladzi haqqin Haqqah, dan Taqdiimul fal aham tsumal Anfa’ fal Anfa’ di setiap aktifitas secara proposional serta menjaga adab, baik lahir maupun batin dengan sebaik baiknya.*

PENDAKI GUNUNG DAN SANG MALAIKAT (MIND PRACTICE) Oleh: Nevy Jamest

PENDAKI GUNUNG DAN SANG MALAIKAT (MIND PRACTICE) Oleh: Nevy Jamest

oleh Yven Majest pada 19 April 2010 jam 16:16
Terkisahkan, dalam suatu rentang sejarah kehidupan umat manusia; Hiduplah seorang pendaki gunung yang mendedikasikan lebih dari separuh waktu hidupnya untuk mendatangi puncak – puncak gunung yang menjulang tinggi di muka bumi ini;

Tidak ada kejelasan mengenai jati diri pendaki gunung dengan rambut berhias bulu elang ini; Tetapi banyak serpihan cerita yang mengesankan pada setiap jejak yang ditinggalkannya di kaki – kaki gunung.

Masyarakat pegunungan lebih mengenalnya ketimbang masyarakat perkotaan;

Mungkin karena ia pendaki gunung yang membesarkan diri di gunung; dan bukan membesarkan diri di media jurnalis.

Pada suatu Muharram tahun Hijriah, pendaki gunung ini tengah berada di sebuah gunung; Gunung tersebut sangat dikenal memiliki tingkat kesulitan yang tinggi;

Menurut cerita para pendaki gunung kehidupan, banyak bebatuan yang rapuh dan mudah lepas di saat - saat terakhir menjelang puncak.

“Jalur pendakian ini boleh saja rapuh, tapi diri seorang pendaki gunung tidak boleh rapuh Jalan hidup saya mungkin saja berliku – liku, tapi hati saya harus tetap lurus; Jalan yang rapuh akan teratasi oleh diri dengan hati yang kuat”, demikian kata pendaki gunung ini kepada seseorang yang ia kasihi.

Dengan penuh kesabaran ia jejakkan tangan dan kakinya pada badan gunung yang terjal; kabut yang mulai turun tidak hanya membatasi jarak pandang tetapi juga menebalkan kecekaman suasana hatinya; dan saat – saat menjelang puncak, pendaki gunung ini tergelincir dan jatuh dengan suara (menyebu), “YA ALLAH…”

Pendaki gunungi ini terkulai lemas tak sadarkan diri pada seutas tali yang menahannya. Angin dan hujan yang datang menyatu diujung petang itu semakin menaikkan angka windchill factor;

Malam harinya, pendaki gunung ini tersadar !

He try to call his mind; dan yang ia temukan : “Oh ada Allah”. Diam – diam hatinya memohon pertolongan kepada Allah ! Ya Allah, tertatih – tatih aku berjalan dimuka bumi ini hingga di gunung ini hanya untuk menyaksikan tanda – tanda kekuasaanMu, aku sangat membutuhkan pertolonganMu !

Beberapa saat kemudian pendaki gunung ini terhentak kaget melihat suatu sosok berdiri di hadapannya;

Pendaki gunung : “ Siapa engkau”?” S o s o k : “saya adalah malaikat utusan Allah”. Apakah engkau yang memohon pertolongan kepada Allah ?

Pendaki gunung : “ Ya, memang benar saya yang memohon pertolongan Allah!. S o s o k : “Apakah engkau percaya kepada pertolongan Allah ?”. Pendaki gunung : “Ya, saya percaya ! “ Jika engkau membawa pesan dari Allah, segeralah sampaikan kepadaku, karena saat ini aku sungguh tidak berdaya”. . S o s o k : “Dengarkanlah baik baik, Allah memerintahkan agar engkau membuka tali yang mengikat tubuhmu !” . setelah itu sosok tersebut itupun lalu menghilang !

Tinggallah pendaki gunung ini sendirian. Ia mencoba menyelami ucapan Sang malaikat; dan,… “Ach, jika saya membuka tali pada tubuhku ,..tentunya saya akan terjatuh ! Pendaki giunung ini lalu kembali tertidur lemas, tergantung pada tali yang selama ini menemaninyya.

Keesokan harinya, Sang Malaikat datang menjemput pendaki gunung dengan rambut berhias bulu elang ini yang jasadnya masih tergantung 3 meter dari atas tanah !

(semoga bermanfaat)

Memeriksa Diri Sendiri & Mengingat Allah

Memeriksa Diri Sendiri & Mengingat Allah

Ketahuilah wahai saudaraku, dalam Al-Qur'an Alloh berfirman, lebih kurang maksudnya,

" Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. " (Al Zalzalah:6-7)

Tercantum juga dalam Al-Qur'an firman yang berbunyi sebagai berikut :

" maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. " (At Takwir:14).

Khalifah Umar ada berkata, " perhitunglah dirimu sebelum engkau diperhitungkan".

Alloh SWT berfirman :

" Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan. ".

Wali-wali Alloh sentiasa mengetahui bahwa manusia datang ke dunia ini untuk menjalankan pengembaraan keruhanian, yang akibatnya ialah untung atau rugi dan tujuannya adalah neraka atau syurga. Senantiasalah mereka itu berwaspada terhadap kehendak-kehendak jasamaniah (tubuh) yang diibaratkan sebagai rekan dalam bisnis yang bersifat jahat dan ada kalanya mendatangkan kerugian kepada bisnis itu. Sebenarnya orang yang bijak itu adalah orang yang mau merenung sebentar selepas sembahyang subuh memikirkan hal dirinya dan berkata kepada jiwanya :

"Wahai jiwaku, engkau hanya hidup sekali. Tiap-tiap saat yang berlalu tidak akan datang lagi dan tidak akan dapat diambil kembali kerena di Hadirat Alloh Subhanahuwa Taala, bilangan nafas turun naik yang dikurniakan kepada engkau itu telah ditetapkan dan tidak boleh ditambah lagi. Inilah perjalanan hidup dalam dunia hanya sekali, tidak ada kali yang kedua dan seterusnya. Oleh itu, apa yang engkau hendak perbuat, buatlah sekarang. Anggaplah seolah-olah hidupmu telah berakhir, dan hari ini adalah hari tambahan yang diberi kepada engkau karena karunia Alloh Subhanahuwa Taala juga. Alangkah ruginya membiarkan hari ini berlalu dengan sia-sia. Tidak ada yang lebih rugi dari itu lagi."

Di hari berbangkit di akhirat kelak, seseorang itu akan melihat semua waktu hidupnya di dunia ini tersusun seperti susunan peti harta dalam satu barisan yang panjang.

Pintu sebuah daripada peti itu terbuka dan kelihatanlah penuh dengan cahaya: Ini menunjukkan waktu yang dipenuhinya dengan membuat amalan yang sholeh. Hatinya akan terasa indah dan bahagia sekali, bahkan sedikit saja rasa bahagia itu pun sudah cukup membuat penghuni neraka melupakan api neraka yang bernyala itu. 

Kemudian peti yang kedua terbuka, maka terlihatlah gelap gelita di dalamnya. Dari situ keluarlah bau busuk yang amat sangat hingga orang terpaksa menutup hidungnya: Ini menunjukkan waktu yang dipenuhinya dengan amal maksiat dan dosa. Maka akan dirasainya azab yang tidak terhingga bahkan sedikit saja pun dari azab itu sudah cukup menggusarkan ahli syurga.

Selepas itu terbuka pintu peti yang ketiga, dan kelihatanlah kosong saja, tidak ada gelap dan tidak ada cahaya di dalamnya: Inilah melambangkan waktu yang dihabiskannya dengan tidak membuat amalan sholeh dan tidak juga membuat amalan maksiat dan dosa. Ia akan merasa sesal dan tidak tentu arah seperti orang yang ada mempunyai harta yang banyak membiarkan hartanya terbuang dan lepas begitu saja dengan sia-sia.

Demikianlah seluruh waktu yang dijalannya itu akan dipamerkan kepadanya satu persatu. Oleh karena itu, seseorang itu hendaklah berkata kepada jiwanya tiap-tiap pagi :

"Alloh telah mengkaruniakan engkau dua puluh empat jam peti harta. Berhati-hatilah mengawasinya supaya jangan kehilangan, karena engkau tidak akan boleh menanggung rasa sesal yang amat sangat jika engkau kehilangan harta itu".

Aulia Alloh ada berkata,

"Walaupun sekiranya Alloh mengampuni kamu, setelah hidup disia-siakan, kamu tidak akan mencapai derajat orang-orang yang Sholeh dan pasti kamu akan meratapi dan manangisi kerugianmu itu. Oleh itu jagalah lidahmu, matamu dan tiap-tiap anggota mu yang tujuh itu kerena semua itu mungkin menjadi pintu untuk menuju ke Neraka".

Katakanlah kepada tubuhmu; "Jika kamu memberontak, sesungguhnya kamu akan kuhukum", karena meskipun tubuh itu kotor, ia boleh menerima arahan dan boleh dijinakkan dengan zuhud". Demikianlah tujuan memeriksa atau memperhitung diri sendiri.

Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda :
"Berbahagialah orang yang beramal sekarang apa yang menguntungkannya di akhirat kelak".

Maka sekarang kita masuk pula kepada bagian yang berhubungan dengan Zikirulloh (mengenang atau mengingat Alloh). Manusia itu hendaklah ingat bahwa Alloh Melihat dan Memperhatikan semua tingkah laku dan pikirannya. Manusia hanya melihat yang zhohir saja, tetapi Alloh Melihat zhohir dan batinnya manusia itu. Orang yang percaya dengan ini sebenarnya dapatlah ia menguasai dan mendisiplinkan zhohir dan bathinnya.

Jika ia tidak percaya ini, maka KAFIRLAH ia. Jika ia percaya tetapi ia bertindak berlawanan dengan kepercayaan itu, maka salah besarlah ia.

Suatu hari, seorang Negro menemui Nabi SAW. dan berkata; "Wahai Rasulullah! Saya telah melakukan banyak dosa.

Adakah taubatku diterima atau tidak?". Nabi SAW. menjawab; "Ya". Kemudian Negro itu berkata lagi, "Wahai Rasulullah! Setiap kali aku membuat dosa adakah Alloh Melihatnya?". Nabi SAW. menjawab lagi; "Ya"
Negro itu pun menjerit lalu mati. Sehingga seseorang itu benar-benar percaya bahwa ia sentiasa dalam perhatian Alloh, maka tidaklah mungkin baginya membuat amalan yang baik-baik.

Seorang Sheikh ada seorang murid yang lebih disayanginya daripada murid-murid yang lain. Dengan itu murid-murid yang lain itu pun berasa dengki kepada murid yang seorang itu. Suatu hari Sheikh itu memberi kepada tiap-tiap murid itu seekor ayam dan menyuruh mereka menyembelih ayam itu di tempat yang tidak ada seseorang pun melihat ia menyembelih itu. Maka pergilah mereka tiap-tiap murid membawa seekor ayam ke tempat yang sunyi dan menyembelih ayam di situ. Kemudian membawanya kembali kepada Sheikh mereka. Semuanya membawa ayam yang telah disembelih kepada Sheikh mereka kecuali seorang yaitu murid yang lebih disayangi oleh Sheikh itu. Murid yang seorang ini tidak menyembelih ayam itu.

Ia berkata; "Saya tidak menjumpai tempat yang dimaksudkan itu kerena Alloh di mana-manapun Melihat".

Sheikh itu pun berkata kepada murid-murid yang lain: "Sekarang sekelian telah lihat sendiri derajat pemuda ini. Dia telah mencapai ke taraf ingat sentiasa kepada Alloh".

Apabila Zulaiha coba menggoda Nabi Yusuf , ia menutup dengan kain muka sebuah berhala yang selalu disimpannya.

Nabi Yusuf berkata kepadanya :
"Wahai Zulaiha, adakah kamu malu dengan batu? sedangkan dengan batu engkau malu, betapa aku tidak malu dengan Alloh yang menjadikan tujuh petala langit dan bumi".

Ada seorang datang berjumpa dengan Sheikh dan berkata; "Saya tidak dapat menghindarkan mataku dari hal-hal yang membawa dosa. Bagaimanakah saya hendak mengawalnya?".

Sheikh menjawab; "Dengan cara mengingat Alloh Melihat kamu lebih jelas dan terang lagi daripada kamu melihat orang lain".
Dalam hadis ada diterangkan bahwa Alloh ada berfirman seperti demikian;

"Syurga itu adalah bagi mereka yang bersabar hendak membuat suatu dosa, dan kemudian mereka ingat bahwa Aku sentiasa Memandang mereka, lalu mereka pun menahan diri mereka".
Abdullah Ibnu Dinar meriwayatkan;

"Satu ketika saya berjalan dengan Khalifah Omar menghampiri kota Mekah. Kami bertemu dengan seorang gembala yang sedang membawa gembalaannya.

Omar berkata kepada gembala itu : "Jualkan pada saya seekor kambing itu". Gembala itu menjawab; "Kambing itu bukan saya punya, tuan saya yang mempunyainya." Kemudian untuk mencobanya,

Omar berkata; "Baiklah, kamu katakanlah kepada tuanmu bahwa yang seekor itu telah dimakan oleh serigala" . Budak gembala itu menjawab; "Tidak, sesungguhnya tuan saya tidak tahu tetapi Alloh Mengetahuinya".

Mendengar jawapan budak gembala itu, bertetesanlah air mata Omar. Beliau pun pergi berjumpa dengan tuan budak gembala kambing itu lalu membelinya dan membebaskannya. Beliau berkata kepada budak itu : "Karena kata-katamu itu, engkau bebas dalam dunia dan akan bebas juga di akhirat kelak".

Ada dua derajat berkenaan Zikir Alloh (mengenang Alloh) ini. Derajat pertama ialah derajat Aulia Alloh. Mereka bertafakur dan tenggelam dalam tafakur mereka dalam mengenang Keagungan dan Kemuliaan Alloh. dan tidak ada tempat langsung dalam hati mereka untuk 'gairuLlah" (selain dari Alloh). Ini adalah derajat zikir Alloh yang bawah, karena apabila hati seseorang itu telah tetap dan anggotanya dikontrol penuh oleh hatinya hingga mereka dapat mengawal mereka dari hal-hal yang halal pun, maka tidak perlulah lagi ia menyediakan alat atau penahan untuk menghalangi dosa.

Maka kepada zikir Alloh seperti inilah Nabi Muhammad (S.W.T) maksudkan apabila ia berkata,
"Orang yang bangun pagi-pagi dengan hanya Alloh dalam hatinya, Alloh akan memeliharanya didunia dan diakhirat."

Setengah daripada mereka golongan ini sangat asyik dan tenggelam dalam mengenang dalam mengingati Alloh hingga kalau ada orang berbicara kepada mereka tidaklah mereka dengar, kalau orang berjalan dihadapan mereka tidaklah mereka nampak. Mereka seolah-olah diam seperti dinding. Seseorang Wali Alloh berkata : "Suatu hari saya melintasi tempat ahli-ahli pemanah sedang bertanding memanah. Tidak berapa jauh dari situ ada seorang duduk seorang diri. Saya pergi kepadanya dan coba hendak berbicara dengannya.
Tetapi ia menjawab, "Mengenang Alloh itu lebih baik dari berbicara".
Saya bertanya, "tidakkah kamu merasa kesepian?"
"Tidak" jawabnya, "Alloh dan dua orang malaikat ada bersamaku" .

Saya bertanya kepada beliau sambil menunjukkan kepada pemanah-pemanah itu, "Antara mereka itu, yang manakah akan menang?"
Beliau menjawab, "Yang itu, Alloh telah beri kemenangan kepadanya."
Kemudian saya bertanya, "dari manakah kamu tahu ?"

Mendengar itu, ia merenung ke langit lalu berdiri dan pergi sambil berkata, "Oh Tuhan! Banyak hamba-hambamu mengganggu seorang yang sedang mengingatimu!"

Seorang wali Alloh bernama Syubli satu hari pergi berjumpa seorang sufi bernama Thauri. Beliau lihat Thauri duduk dengan berdiam diri dalam tafakkur hingga sehelai bulu romanya pun tidak bergerak.

Syubili bertanya kepada Thauri, "Kepada siapa anda belajar latihan bertafakkur dengan diam diri seperti itu?" Thauri menjawab, "Dari seekor kucing yang saya lihat menunggu di depan lubang tikus. Kucing itu akan lebih diam dari apa yang saya lakukan ini."
Ibn Hanif meriwayatkan:

"Saya diberitahu bahwa di Bandar Thur ada seorang Syeikh dan muridnya sentiasa duduk dan tenggelam dalam zikir Alloh. Saya pergi ke situ dan saya dapati kedua orang itu duduk dengan muka mereka menghadap ke kiblat. Saya memberi salam kepada mereka tiga kali. Tetapi mereka tidak menjawab. Saya berkata, "Dengan nama Alloh saya minta tuan-tuan menjawab salamku". Pemuda itu mengangkat kepalanya dan menjawab,

"Wahai Ibn Hanif! dunia ini untuk sebentar waktu saja, dan yang sebentar itupun tinggal sedikit saja. Anda mengganggu kami karena meminta kami menjawab salammu itu".

Kemudian dia menundukkan kepalanya lagi dan terus berdiam diri. Saya rasa lapar dan dahaga pada masa itu, tetapi dengan memandang mereka itu saya lupa pada diri saya. Saya terus bersama mereka dan sembahyang Dhuhur dan Ashar bersama mereka. Saya minta mereka memberi nasihat kepada saya berkenaan kerohanian ini.

Pemuda itu menjawab, " Wahai Ibni Hanif, kami merasa susah, kami tidak ada lidah untuk memberi nasihat itu." Saya terus berdiri di sepertiga malam. Kami tidak berbicara antara satu sama lain, dan tidak tidur. Kemudian saya berkata kepada diri saya sendiri, saya akan mohon kepada Alloh supaya mereka menasihati saya." Pemuda itu mengangkat kepalanya dan berkata,

"Pergilah cari orang seperti itu, ia akan dapat membawa Alloh kepada ingatan anda dan melengkapkan rasa takut kepada hatimu, dan ia akan memberi anda nasihat yang disampaikan secara diam tanpa berbicara sembarangan."

Demikianlah dzikir Alloh para Aulia yaitu melenyapkan dan menenggelamkan pikiran dan khayalan dalam Mengenang Alloh. Zikir Mengenang Alloh (dzikir Alloh) yang kedua ialah dzikirnya "golongan kanan" yaitu yang disebut dalam Quran sebagai Ashabul Yamin. Mereka ini tahu dan kenal bahwa Alloh sangat mengetahui terhadap mereka dan mereka merasa tunduk dan tawaduk di Hadirat Alloh SWT tetapi tidaklah sampai mereka melenyapkan dan menenggelamkan pikiran dan khayalan mereka dalam mengenang Alloh saja sehingga tidak peduli keadaan keliling mereka. Mereka sadar diri mereka dan sadar terhadap alam ini. Keadaan mereka adalah seperti seorang yang terkejut karena didapati dalam keadaan telanjang dan cepat-cepat menutup aurat mereka.
Golongan yang satu lagi adalah seperti orang yang tiba-tiba mendapati diri mereka di majlis raja yang besar lalu ia merasa tidak tentu arah dan merasa takjub.

Golongan yang mula-mula itu memeriksa terlebih dahulu apa yang memasuki hati mereka dengan rapi sekali, karena di hari kiamat kelak tiga persoalan akan ditanya terhadap tiap-tiap perbuatan. Dan tindakan yang telah dilakukan.
Pertama: "Kenapa kamu membuat ini?" ,

Kedua: "Dengan cara apa kamu membuat ini?", dan

Ketiga: "Untuk tujuan apa kamu melakukan ini?".

Yang pertama itu dipermasalahkan karena seseorang itu hendaklah bertindak dari niat dan dorongan Ketuhanan dan bukan dorongan Syaitan dan hawa nafsu.

Jika masalah itu dijawab dengan memuaskan hati, maka diadakan ujian kedua yaitu masalah bagaiman tindakan itu dilakukan dengan bijak, dengan cara baik, atau dengan cara tidak peduli atau tidak baik.

Yang ketiga, adanya perbuatan dan tindakan itu karena Alloh semataa atau bukan karena hendak disanjung oleh manusia.

Jika seseorang itu memahami makna dari masalah masalah ini, maka ia tentu berhati-hati sekali terhadap keadaan hatinya dan bagaimana ia melawan pikiran yang mungkin menimbulkan tindakannya. Sebenarnya memilih dan menapis pikiran dan khayalan itu sangatlah susah dan rumit.

Barangsiapa yang tidak sanggup membuatnya hendaklah pergi berguru dengan orang-orang keruhanian. Mengaji dan berguru dengan mereka itu dapat mendatangkan cahaya ke dalam hati. Dia hendaklah menjauhkan diri dari orang-orang alim kedunian kerena mereka ini adalah alat atau ujian syaitan.

Alloh berfirman kepada Nabi Daud a.s.;

" Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. ". (Shaad:26)

Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda;

"Alloh kasih kepada orang yang tajam matanya terhadap hal-hal yang menimbulkan syak-wasangka dan tidak membiarkan akalnya diganggui oleh serangan hawa nafsu".

Akal dan pilihan sangat berkaitan, dan orang yang akalnya tidak menguasai hawa nafsu tidak akan dapat memilih yang baik dari yang jahat.

Disamping membuat pilihan dan berhati-hati sebelum bertindak, maka seseorang itu hendaklah menghitung dan menyadari apa yang telah dilakukannya dahulu. Tiap-tiap malam periksalah dengan hati dan lihatlah apa yang telah dilakukan dan sama adanya untung atau rugi dalam bisnis keruhaniaan ini. Ini adalah penting karena hati itu ibarat rekan dalam berbisnis yang jahat yang senantiasa hendak menipu dan menjilat. Kadang-kadang ia menunjukkan diri jahatnya itu. Sebaliknya topeng taat kepada Alloh, agar manusia menganggap ia telah beruntung tetapi sebenarnya ia telah rugi.

Seorang Wali Alloh bernama Amiya yang berumur 60 tahun telah menghitung berapa hari umurnya. Maka didapati umurnya ialah selama 21, 600 hari.

Beliau berkata kepada dirinya sendiri :

"Aduhai! jika saya telah melakukan satu dosa dalam sehari, bagaimana saya hendak lari dari beban 21, 600 dosa?".

Beliau menjerit dan terus rebah. Apabila orang datang hendak mengangkatkannya, mereka telah mendapati beliau telah meninggal dunia. Tetapi malang , kebanyakan orang telah lupa. Mereka tidak memperhitung diri mereka sendiri. Jika tiap-tiap satu dosa itu diibaratkan sebiji batu, maka penuhlah sebuah rumah dengan batu itu. Jika malaikat Kiraman Kaatibin meminta gaji karena menulis dosa yang telah manusia lakukan, maka tentulah habis uangnya bahkan tidak cukup untuk membayar gaji mereka itu. Orang berpuas hati membilang biji tasbih sambil berzikir nama Alloh, tetapi mereka tidak ada biji tasbih untuk mengira berapa banyak percakapan sia-sia yang telah diucapkannya. Oleh karena itulah, Khalifah Omar berkata :

"Timbanglah perkataan dan perbuatanmu sekarang sebelum ia dipertimbangkan di akhirat kelak".

Beliau sendiri sebelum pergi tidur malam hari memukul kakinya dengan cambuk sambil berkata : "Apa yang telah engkau lakukan hari ini?".

Suatu hari Thalhah sedang sembahyang di bawah pohon-pohon kurma dan terlihat olehnya seekor burung yang jinak berterbangan di situ. Karena memandang burung itu beliau terlupa berapa kalikah beliau sujud. Untuk menghukum dirinya karena kelalaian itu, beliau pun memberi pohon-pohon khurma itu kepada orang lain.

Aulia Alloh mengetahui hawa nafsu mereka itu selalu membawa kepada kesesatan. Oleh itu mereka berhati-hati benar dan menghukum diri mereka setiap kali mereka telah melanggar batas.

Jika seseorang itu mendapati diri mereka telah terjauh dan menyeleweng dari sifat zuhud dan disiplin diri, maka sepatutnya beliau belajar dan meminta nasihat dari orang yang pakar dalam latihan keruhanian, supaya hati mereka lebih bersemangat kepada sifat zuhud, disiplin diri dan akhlak yang suci itu.
Seorang Wali Alloh pernah berkata,

"Apabila saya berasa merosot dalam disiplin diri, saya akan melihat Muhammad bin Abu Wasi, dan melihat beliau itu bersemagatlah hatiku sekurang-kurangnya seminggu".
Jika seseorang itu tidak mendapati seseorang yang zuhud di sekitarnya, maka indahlah mengkaji riwayat Aulia Alloh. indah juga ia menasihat jiwanya seperti demikian :

"Wahai jiwaku! engkau fikir dirimu cerdik pandai dan engkau marah jika disebut bodoh. Maka apakah engkau ini? Engkau sediakan kain baju untuk melindungi dingin tetapi tidak bersedia untuk kembali ke akhirat.

Keadaanmu adalah seperti orang dalam musim sejuk berkata :

"Aku tidak pakai pakaian panas, cukuplah aku bertawakkal kepada Alloh untuk melindungi aku dari dingin".
Dia telah lupa bahwa Alloh disamping menjadikan dingin itu ada juga memberi petunjuk kepada manusia bagaimana membuat pakaian untuk melindungi dari dari sejuk dan dingin, dan disediakan alat dan bahan-bahan untuk membuat pakaian itu. Ingatlah jiwa! hukuman kepadamu di akhirat kelak bukanlah karena Alloh murka karena tidak patuhmu, dan janganlah berkata :

"Bagaimana pula dosaku boleh menyakiti Alloh?

Adakah hawa nafsumu sendiri yang menyalakan api neraka di dalam dirimu sendiri, seperti orang yang memakan makanan yang membawa penyakit. adalah penyakit itu tejadi dalam tubuh manusia, dan bukan karena dokter marah kepadanya karena tidak mematuhi perintahnya.

"Tidak malukah kamu wahai jiwa! karena kamu sangat cenderung kepada dunia!!!. Jika kamu tidak percaya dengan Syurga dan Neraka, maka sekurang-kurangnya percayalah kepada mati yang akan merampas dari kamu semua keindahan dunia dunia dan membuat kamu merasa kepayahan berpisah dari dunia ini. Semakin kuat keterikan kamu kepada dunia, maka semakin pedihlah yang kamu rasakan.

Apakah dunia ini bagimu? Jika seluruh dunia ini dari Timur ke Barat kepunyaanmu dan menyembahmu, namun itu tidaklah lama. Akan semuanya hancur jadi abu bersama dirimu sendiri dan namamu makin lama makin dilupakan, seperti Raja-raja yang dahulu sebelum kamu. Setelah kamu melihat bagaimana kecil dan kerdilnya kamu di dunia ini, maka kenapa kamu bergila-gila benar menjual keindahan dan kebahagiaan yang abadi dan memilih kebahagian yang sementara seperti menjual intan berlian yang mahal untuk mendapatkan kaca yang tidak berharga, dan menjadikan kamu bahan ketawa orang lain?"

PETA KEHIDUPAN

PETA KEHIDUPAN

da sebuah ungkapan yang pernah saya baca; “Orang bodoh hidup untuk makan, namun orang bijak makan untuk hidup.” Lantas apakah tujuan hidup orang bijak? Apakah hanya untuk bertahan hidup? Padahal kehidupan bukanlah akhir dan tidak dapat mengakhiri dirinya sendiri, lantas apa tujuan hidup ini?
Para ahli fikir merumuskan masalah ini dengan 3 pertanyaan dasar; Darimana, kemana, dan mengapa? Artinya, saya darimana, akan kemana, lantas mengapa saya ada disini?
Bagi mereka yang tidak mempercayai adanya Tuhan, yakni orang Ateis, hanya yakin terhadap materi yang terindera. Menurut mereka sesuatu itu ada jika terdeteksi oleh indera, jika tidak maka ia adalah fiksi. Alam semesta beserta isinya bagi mereka – terjadi begitu saja – kebetulan yang yang indah. Dan manusia tidak ubahnya bagai binatang dan tumbuhan, hidup dalam jangkau waktu tertentu kemudian mati.
Sehingga dalam pandangan mereka, dunia inilah awal dan akhir dan ini semua terjadi begitu saja tanpa ada keterlibatan Tuhan, karena mereka meyakini alam mempunyai mekanisme sendiri untuk mengatur dirinya sendiri.
Namun jika kita bicara jujur, sebenarnya tiap manusia mempunyai naluri keagamaan. Maka saya setuju dengan ungkapan sejarawan terkemuka Yunani 2000 tahun silam, Plutarch mengatakan, “Adalah mungkin bagi anda menjumpai kota-kota yang tidak memiliki istana, raja, kekayaan, etika, dan tempat-tempat pertunjukan. Namun tidak seorangpun yang dapat menemukan sebuah kota yang tidak memiki sesembahan atau kota yang tidak mengajarkan penyembahan kepada para penduduknya”. Ungkapan kuno ini benar. Ia menyatakan bahwa naluri keagamaan sesungguhnya adalah sesuatu yang bersumber dari fitrah manusia.
Kajian atas sejarah manusia menegaskan bahwa kepercayaan telah bersemayam dalam diri manusia sejak kurun peradaban kuno hingga saat ini. Berdasarkan penciptaan dan strukturnya, manusia adalah mahluk yang, tidak bisa tidak, musti memiliki keyakinan. Berdasarkan struktur inilah manusia diciptakan Allah. Namun begitu, manusia diberi hak memilih – patuh atau bermaksiat kepada-Nya.
Menurut Alquran, segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, termasuk manusia, hidup didalam naungan hidayah yang terbentuk secara fitri, yang mengantarkannya kepada Allah. Dari titik tolak inilah Islam berusaha menggiring pemahaman umat manusia untuk tidak menjadikan dunia ini, sebagai persinggahan terakhir, namun sebagai starting point untuk menuju kehidupan selanjutnya yang abadi dan hakiki, akhirat!
Oleh karenanya Alquran memberi perhatian khusus dan serius pada masalah kehidupan akhirat melebihi masalah-masalah lainnya. Misalnya saja, ayat-ayat hukum menerangkan berbagai masalah cabang (fá»§ru’) hanya berjumlah 500 buah. Sementara, ayat-ayat yang berbicara tentang hari kebangkitan bejumlah lebih dari 1000 buah. Dari sini dapat dilihat Alquran memberikan perhatian serius pada masalah pemikiran dan keyakinan.
Jika hal ini mempunyai peranan sangat penting sepert ini, lantas apa arti semua ini? Kemerdekaan! Allah SWT menghendaki manusia untuk mengEsakan-Nya, dan menjadi manusia yang benar-benar merdeka bersama-Nya agar tidak menjadi hamba bagi segala sesuatu.
Dari penghambaan kepada Allah sajalah, akan lahir kemerdekaan manusia. Sebaliknya, dari kesombongan terhadap Allah, manusia akan diperbudak oleh segala sesuatu selain Allah. Dengan kata lain, pengEsaan dan penghambaan kepada Allah, memberikan kemulian dan kemerdekaan kepada manusia. Tanpanya, manusia menjadi budak bagi segala sesuatu yang diciptakanNya. Dan inilah tujuan hidup orang bijak yakni, merdeka bersama Allah, Tuhan yang menciptakannya.

MENCARI TUHAN,..

MENCARI TUHAN,..

Pencarian akan Tuhan, dari dulu kala hingga saat ini terus berlangsung. Hal tersebut memang sangat lumrah. Dalam kitab suci Al Qur’an pun, diceritakan kisah Nabi Ibrahim yang mencari Tuhan, hingga pada akhirnya beliau dapat menemukanNya.

Namun, tidak semua pencari Tuhan, bertemu dengan Tuhan yang sesungguhnya. Diakhir usaha pencariaannya, pencari Tuhan ada yang berhasil nemu, ada yang setengah nemu-setengah enggak dan ada yang nggak nemu babar-blas.

Setelah sekian jauh berjalan, yang nggak nemu, ada yang tetap yakin Tuhan itu ada, tapi ada juga yang langsung ambil kesimpulan tegas: ”Tuhan nggak ada... sudah saya cari-cari sekian lama.. ternyata tidak ada.. hmmm”.

Ada juga yang nggak berhasil nemu dan ngasih keterangan tambahan: ”Yang mengaku nemu Tuhan itu mengada-ada. Tuhan yang diada-adakan. Konsepsi doang. Jadi mereka itu mempertuhankan konsepsi doang”.

Orang yang tidak percaya adanya alam ghaib, orang yang hanya berkutat di Dimensi Alam Materi saja, mencoba mencari Tuhan melalui materi-materi yang terpampang di alam sekitar dan jagad raya ini. Hasilnya? Bisa diduga: Tuhan tidak ditemukan, dan untuk “sementara” (entah sementara betulan atau sementaun dan sementetap.. ) mereka menganggap Tuhan itu tidak ada.

Sebagian lagi masih penasaran: “Tentulah alam-jagad raya ini bukan terjadi secara kebetulan. Ada yang menciptakan. Tetapi yang menciptakanNya belum saya temukan”. Lihatlah dalam tubuh kita, ”bagaimana mungkin sebuah kelenjar hormon, yang belum pernah melihat seperti apa system kerja sebuah kelenjar hormon yang lain, dapat mengirimkan hormon yang membuat kelenjar hormon lain tersebut bekerja dengan ketepatan yang luar biasa. Informasi data dan command apa yang terkandung dalam hormon tersebut? Pastilah ada Sang Maha Pencipta.

Orang yang kebetulan bisa melihat Dimensi Alam Energi, alam ghaib dibalik alam materi, juga mencoba mencari Tuhan. Mereka sudah mencari ke utara, hanya ketemu naga. Dan telah bertanya ia kepada Naga. ”Hai naga, tahukah kamu dimana Tuhan bisa aku temui?” ”tuhan???” apaan tuh? Aku tidak tahu tuhan, yang kutahu ada kera sakti setengah dewa yang berdiam di ujung gunung itu”.

Mereka sudah pula mencari ke barat, hanya ketemu Jinny. Sebelum ditanya, si Jinny sudah ngomong duluan ”sorry.. you are not my master”.
Mereka sudah pula mencari ke timur, malah ketemu Ifrit. Agaknya mereka lupa mencari ke selatan. Coba ke selatan, pasti ketemu kang guru dan ko ala...

Ada sebagian orang yang bisa melihat Dimensi Alam Energi tapi belum nemu Tuhannya, sudah berkomentar terhadap pendapat orang yang bisa melihat alam ghaib, yang juga belum nemu TuhanNya, tapi percaya betul Tuhan itu ada: “Masaaaak??!! situ nggak nemu aja bisa bilang Tuhan itu ada? Buktikan dong?? Kami perlu bukti bukan tuhan yang diada-adakan!!!

Ada sebagian orang yang bisa melihat Dimensi Alam Energi, belum nemu Tuhannya, namun ia percaya dan terus mencari Tuhannya. Diantara mereka juga ada yang berkomentar tentang orang yang bisa melihat Dimensi Alam Energi tetapi tidak percaya Tuhan itu ada: “Payah tuhh!!! Kemampuan scan-nya aja masih cethek bin buthek banget sudah beranian ngatain Tuhan itu nggak ada, cuma bikin-bikinan.. Tuhan yang diada-adakan.. sok tau bener luh…!!!

Ada orang-orang yang mencoba menyelami Dimensi Alam Energi. Masuk ke dalam diri, menelusuri setiap sudut hatinya. Masuk dan terus masuk, terbentur kerasnya emosi, terbentur piciknya pikiran, akhirnya ketemu kekosongan.. oh tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa selain aku. Aku sudah lebur dengan kekosongan. Akulah Sang Kekosongan. Tuhan itu kosong.

Ada juga penyelam diri yang sudah nemu kekosongan, namun ia tidak percaya kekosongan adalah dasar samudra yang ia selami. Ah.. masak Dia adalah dasarnya? Bukankah Dia tidak Terbatas?. Sedang yang terbatas itu makhluk. Dia Maha Tak Terbatas. Dan ternyata betul, ia dapat menyingkap dasar samudra itu. Maka, melajulah ia ketahapan perjalanan selanjutnya, di Dimensi Alam Cahaya. Dan ternyata Dimensi Alam Cahaya pun bukanlah akhir dari pencarian akan Tuhannya.

Siapapun mereka, apapun yang mereka percayai, mereka akan menemukan apa yang mereka percayai dan apa yang mereka tidak percayai. Kembali kepada yang dipercayainya dan tidak dipercayainya.
Yang tidak percaya, akan kembali mendapatkan ketidak-percayaannya. Yang percaya berhala, akan kembali kepada berhalanya. Yang percaya dirinya adalah tuhan itu sendiri, akan kembali kepada dirinya sendiri. Dan yang percaya pada Allah Yang Maha Menciptakan. Ia akan kembali pada Allah Sang Maha Pencipta.

Adakah ruginya mempercayai adanya Sang Pencipta, yang menciptakan segala-sesuatu, meliputi dirinya?. Tidak ada.
Jika ternyata Tuhan yang ia percayai itu tidak ada, ia telah terlanjur terbang tinggi dan akan tetap terbang diketinggian. Jika terbukti ada, maka ia akan sangat berbahagia ketemu Sang Maha Pencipta. Yang telah menciptakan orang-orang yang percaya maupun yang tidak percaya.

Adakah ruginya tidak percaya adanya Sang Pencipta. Jelas ada, jika terbukti ada maka segala ketentuan hukum itu berlaku dan merugilah ia selama-lamanya. Abadaa...

Tapi.. omong punya omong, selain para pencari Tuhan, ada juga yang nggak mau tahu dan nggak mau nyari: ”Ngapain Tuhan dicari-cari? Wong jelas-jelas nggak bakalan nemu.. Gitu aja repot!!!” Hihihihi.....

Anak Kunci Untuk Mengenal Allah

Anak Kunci Untuk Mengenal Allah

Mengenal diri itu adalah "Anak Kunci" untuk Mengenal Alloh.
Hadis ada mengatakan :
MAN 'ARAFA NAFSAHU FAQAD 'ARAFA RABBAHU
(Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Alloh)

Firman Alloh Taala :
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (QS. 41:53)

Tidak ada hal yang melebihi diri sendiri. Jika anda tidak kenal diri sendiri, bagaimana anda hendak tahu hal-hal yang lain? Yang dimaksudkan dengan Mengenal Diri itu bukanlah mengenal bentuk lahir anda, tubuh, muka, kaki, tangan dan lain-lain anggota anda itu. karena mengenal semua hal itu tidak akan membawa kita mengenal Alloh. Dan bukan pula mengenal perilaku dalam diri anda yaitu bila anda lapar anda makan, bila dahaga anda minum, bila marah anda memukul dan sebagainya. Jika anda bermaksud demikian, maka binatang itu sama juga dengan anda. Yang dimaksudkan sebenarnya mengenal diri itu ialah:

Apakah yang ada dalam diri anda itu?

Dari mana anda datang? Kemana anda pergi? Apakah tujuan anda berada dalam dunia fana ini? Apakah sebenarnya bagian dan apakah sebenarnya derita?

Sebagian daripada sifat-sifat anda adalah bercorak kebinatangan. Sebagian pula bersifat Iblis dan sebagian pula bersifat Malaikat. Anda hendaklah tahu sifat yang mana perlu ada, dan yang tidak perlu. Jika anda tidak tahu, maka tidaklah anda tahu di mana letaknya kebahagiaan anda itu.

Kerja binatang ialah makan, tidur dan berkelahi. Jika anda hendak jadi binatang, buatlah itu saja. Iblis dan syaitan itu sibuk hendak menyesatkan manusia, pandai menipu dan berpura-pura. Kalau anda hendak menurut mereka itu, lakukan sebagaimana kerja-kerja mereka itu. Malaikat sibuk dengan memikir dan memandang Keindahan Ilahi. Mereka bebas dari sifat-sifat kebinatangan.

Jika anda ingin bersifat dengan sifat KeMalaikatan, maka berusahalah menuju asal anda itu agar dapat anda mengenali dan menuju pada Alloh Yang Maha Tinggi dan bebas dari belenggu hawa nafsu. Sebaiknya hendaklah anda tahu kenapa anda dilengkapi dengan sifat-sifat kebinatangan itu. 

Adakah sifat-sifat kebinatangan itu akan menaklukkan anda atau adakah anda menakluki mereka?. Dan dalam perjalanan anda ke atas martabat yang tinggi itu, anda akan gunakan mereka sebagai tunggangan dan sebagai senjata.

Langkah pertama untuk mengenal diri ialah mengenal bahwa anda itu terdiri dari bentuk yang zhohir, yaitu tubuh ; dan hal yang batin yaitu hati atau Ruh . Yang dimaksudkan dengan "HATI" itu bukanlah daging yang terletak dalam sebelah kiri tubuh.

Yang dimaksudkan dengan "HATI" itu ialah satu hal yang dapat menggunakan semua kekuatan, yang lain itu hanyalah sebagai alat dan kaki tangannya saja. Pada hakikat hati itu bukan termasuk dalam bidang Alam Nyata(Alam Ijsam) tetapi adalah termasuk dalam Alam Ghaib. Ia datang ke Alam Nyata ini ibarat pengembara yang melawat negeri asing untuk tujuan berniaga dan akhirnya kembali akan kembali juga ke negeri asalnya. Mengenal hal seperti inilah dan sifat-sifat itulah yang menjadi "Anak Kunci" untuk mengenal Alloh. 

Sedikit ide tentang hakikat Hati atau Ruh ini bolehlah didapati dengan memejamkan mata dan melupakan segala hal yang lain kecuali diri sendiri. Dengan cara ini, dia akan dapat melihat tabiat atau keadaan "diri yang tidak terbatas itu". Meninjau lebih dalam tentang Ruh itu adalah dilarang oleh hukum. Dalam Al-Quran ada diterangkan,

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (Bani Israil:85) 

Demikianlah sepanjang yang diketahui tentang Ruh itu dan ia adalah mutiara yang tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan ia termasuk dalam "Alam Amar/perintah". Ia bukanlah tanpa permulaan. Ia ada permulaan dan diciptakan oleh Alloh. Pengetahuan falsafah yang tepat mengenai Ruh ini bukanlah permulaan yang harus ada dalam perjalanan Agama, tetapi adalah hasil dari disiplin diri dan berpegang teguh dalam jalan itu, seperti tersebut di dalam Al-Quran :

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ankabut:69) 

Untuk menjalankan perjuangan Keruhanian ini, bagi upaya pengenalan kepada diri dan Tuhan, maka
• Tubuh itu bolehlah diibaratkan sebagai sebuah Kerajaan,
• Ruh itu ibarat Raja.
• Pelbagai indera (senses) dan daya (fakulti) itu ibarat satu pasukan tentara.
• Aqal itu bisa diibaratkan sebagai Perdana Menteri.
• Perasaan itu ibarat Pemungut pajak, perasaan itu terus ingin merampas dan merampok.
• Marah itu ibarat Pegawai Polisi,
• marah sentiasa cenderung kepada kekasaran dan kekerasan.

Perasaan dan marah ini perlu ditundukkan di bawah perintah Raja. Bukan dibunuh atau dimusnahkan karena mereka ada tugas yang perlu mereka jalankan, tetapi jika perasaan dan marah menguasai Aqal, maka tentulah Ruh akan hancur.

Ruh yang membiarkan kekuatan bawah menguasai kekuatan atas adalah ibarat orang orang yang menyerahkan malaikat kepada kekuasaan Anjing atau menyerahkan seorang Muslim ke tangan orang Kafir yang zalim. Orang yang menumbuh dan memelihara sifat-sifat iblis atau binatang atau Malaikat akan menghasilkan ciri-ciri atau watak yang sepadan dengannya yaitu iblis atau binatang atau Malaikat itu. Dan semua sifat-sifat atau ciri-ciri ini akan nampak dengan bentuk-bentuk yang jelas di Hari Pengadilan.
• Orang yang menurut hawa nafsu nampak seperti babi,
• Orang yang garang dan ganas seperti anjing dan serigala,
• Orang yang suci seperti Malaikat.

Tujuan disiplin akhlak (moral) ialah untuk membersihkan Hati dari karat-karat hawa nafsu dan amarah, sehingga ia jadi seperti cermin yang bersih yang akan memantulkan Cahaya Alloh Subhanahuwa Taala.

Mungkin ada orang bertanya,
"Jika seorang itu telah dijadikan dengan mempunyai sifat-sifat binatang, Iblis dan juga Malaikat, bagaimanakah kita hendak tahu yang sifat-sifat Malaikat itu adalah sifatnya yang hakiki dan yang lain-lain itu hanya sementara dan bukan sengaja?"

Jawabannya ialah mutiara atau inti sesuatu makhluk itu ialah dalam sifat-sifat yang paling tinggi yang ada padanya dan khusus baginya. Misalnya keledai dan kuda adalah dua jenis binatang pembawa barang-barang, tetapi kuda itu dianggap lebih tinggi darjatnya dari keledai karena kuda itu digunakan untuk peperangan. Jika ia tidak boleh digunakan dalam peperangan, maka turunlah ke bawah derajatnya kepada derajat binatang pembawa barang-barang. saja.

Begitu juga dengan manusia; daya yang paling tinggi padanya ialah ia bisa berfikir yaitu Aqal. Dengan pikiran itu dia bisa memikirkan hal-hal Ketuhanan. Jika daya berfikir ini yang meliputi dirinya, maka bila ia mati (bercerai nyawa dari tubuh) , ia akan meninggalkan di belakang semua kecenderungan pada hawa nafsu dan marah, dan layak duduk bersama dengan Malaikat. Jika berkenaan dengan sifat-sifat Kebinatangan, maka manusia itu lebih rendah tarafnya dari binatang, tetapi Aqal menjadikan manusia itu lebih tinggi tarafnya, karena Al-Quran ada menerangkan bahwa,

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Luqman:20) 

Jika sifat-sifat yang rendah itu menguasai manusia, maka setelah mati, ia akan memandang terhadap keduniaan dan merindukan keindahan di dunia saja.
  • Ruh manusia yang berakal itu penuh dengan kekuasaan dan pengetahuan yang sangat menakjubkan.
  • Dengan Ruh Yang Berakal itu manusia dapat menguasai segala cabang ilmu dan Sains.
  • Dapat mengembara dari bumi ke langit dan balik semula ke bumi dalam sekejap mata.
  • Dapat memetakan langit dan mengukur jarak antara bintang-bintang.
  • Dengan Ruh itu juga manusia dapat menangkap ikan ikan dari laut dan burung-burung dari udara.
  • Menundukkan binatang-binatang untuk tunduk kepadanya seperti gajah, unta dan kuda.
Lima indera (pancaindera) manusia itu adalah ibarat lima buah pintu terbuka menghadap ke Alam Nyata (Alam Syahadah) ini.

Lebih ajaib dari itu lagi ialah Hati. Hatinya itu adalah sebuah pintu yang terbuka menghadap ke Alam Arwah (Ruh-ruh) yang ghaib.

Dalam keadaan tidur, apabila pintu-pintu dunia tertutup, pintu Hati ini terbuka dan manusia menerima berita atau kesan-kesan dari Alam Ghaib dan kadang-kadang membayangkan hal-hal yang akan datang. Maka hatinya adalah ibarat cermin yang memantulkan (bayangan) apa yang tergambar di Luh Mahfuz. Tetapi meskipun dalam tidur, pikiran tentang hal-hal keduniaan akan menggelapkan cermin ini. maka gambaran yang diterimanya tidaklah terang. Setelah lepasnya nyawa dengan tubuh (mati), Pikiran-pikiran tersebut hilang sirna dan segala sesuatu terlihatlah dalam keadaan yang sebenarnya.

Firman Alloh dalam Al-Quran :
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (Qaaf:22).

Perjalanan Hidup Manusia

A. Perjalanan Hidup Manusia

Manusia mengalami dua kali mati dan dua kali hidup lalu kembali ke haribaan Allah, mati yang pertama adalah kehi dupan manusia sebagai roh sebelum bergabung dengan jasad, keadaan ini disebut (1) Alam  Arwah, lalu hidup di dunia, dimana roh manusia sudah bergabung dengan jasad, keadaan ini disebut (2) Alam Dunia, sesudah itu manusia mati, yakni rohnya berpisah kembali dengan jasad, inilah yang disebut (3) Alam Barzakh (kubur), sesudah hari Qiyamat mereka dihidupkan kembali, situasi ini disebut (4) Alam Ba’ats (bangkit), dan akhirnya mereka (5) dikembalikan, ada yang ke Neraka dan ada pula yang ke Syurga. (QS. 2:28)

Diantara 5 alam besar di atas ada alam antara, yaitu :
1.    Antara alam arwah dengan dunia, ada Alam Arham.
2.    Antara alam dunia dengan alam barzakh, ada Sakarat maut
3.    Antara barzakh dengan Ba’ats, ada Hari Qiyamat.
4.    Antara ba’ats dengan Neraka/syurga, ada Hisab (perhitungan amal)

Tatkala manusia di dunia, Allah bertanya “mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal dulu kamu mati…?” (QS. 2:28) yang dimaksud mati adalah kehidupan roh manusia tanpa jasad, yakni ketika di alam arwah, sementara pertanyaan Allah di atas menunjukan keheranan, dan itu mengandung arti kebalikannya, seperti pertanyaan “kenapa kamu gemuk padahal dahulu kamu kurus?” Gemuk yang ditanyakan adalah kebalikan kurus. Kalimat pertanyaan Allah di atas kafir (tertutup) kebalikannya mati, artinya ketika di alam arwah manusia sudah beriman, sebagai kebalikan dari kafir, dengan demikian kalau dirinci pertanyaan tadi akan berbunyi  “Mengapa kamu kafir (tertutup) kepada Allah, padahal ketika kamu di alam arwah kamu sudah syahadat (terbuka) dengan bersaksi tauhid kepada-Nya.”

Dari pemahaman ayat ini, kita berkeyakinan bahwa sesungguhnya semua manusia ketika di alam arwah sudah bersaksi tauhid (beriman), baik yang sesudah di dunianya beriman atau yang kafir, sehingga kepada yang kafir ditanyakan Allah “Kok sekarang kamu kafir, padahal dulunya kamu beriman?”

B. Manusia di Alam Arwah

Ketika manusia di alam arwah, semua ditanya oleh Allah “ Bukankah Aku Tuhan kamu sekalian?” Semua arwah manusia menjawab “yaa…! Kami bersaksi.” (QS. 7:72). Dengan demikain pada mulanya semua arwah manusia mengakui ke-Esa-an Tuhan yaitu, Allah inilah yang disebut “Janji Tauhid,” karena itu jika manusia lahir ke dunia tidak syahadat atau kafir maka Allah mempertanyakannya (lihat kembali QS. 2:28), maka yang kafir kepada Allah di dunia itu disebut mereka yang melanggar janji (QS. 2:27), sementara yang menepati janji ialah, mereka yang ketika di dunia mengucapkan syahadat (persaksian) :


“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah”

Kosekuensi dari persaksian ini, maka manusia tidak boleh kafir atau syirik kepada Allah.

Bersaksi itu sendiri “mengucapkan kembali apa yang sudah diketahui sebelumnya,” dengan demikian pengucapan ikrar syahadat kita di dunia pada hakikatnya adalah pengungkapan kembali janji kita di alam arwah.

Disamping janji tauhid kepda Allah ketika manusia masih di alam arwah, manusia juga  sudah terikat dengan janji amanat yakni, berjanji akan memikul tamggung jawab, menerima ajaran yang dibawakan oleh Rasul-rasul Allah, besedia melaksanakan perintah untuk kebahagian mereka, dan juga siap meninggalkan larangan, karena akann menyengsarakan mereka, namun kenyataan di dunia justru kebanyakan manusia melanggar larangan Allah, padahal ia tau itu akan menyengsarakannya, maka ia disebut “Zhaluuman” (sangat aniaya). Sementara perintah Allah justru ditinggalkannya, padahal ia tahu itu sangat membahagiakannya. Maka ia disebut “Jahuulan” (sangat bodoh). (QS. 33:72).

Dari janji amanat itu maka manusia sesudah lahir ke dunia, dituntut kembali mengungkap kesaksian menerima Rasul Allah, dan lahirlah syahadat Rasul Allah :


“Aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah”

Kosekuensi dari persaksian ini, manusia wajib mengikuti sunnah Rasul Allah.

Sesudah di alam arwah manusia berjanji tauhid dan janji amanat, mak di dunia mereka terbagi menjadi dua golongan (QS. 13:20-25):
1.    : Orang-orang yang menepati janji dengan Allah.
2.    : Orang-orang yang melanggar janji.

Ketika manusia di dunia ditanya tentang adanya perjanjian di alam arwah, tak seorang pun yang mengakuainya padahal denga jelas Al-Qur-an menginformasikan, jika diwaktu yang lalu mengetahui sesuatu sementara waktu yang belakang tidak mengetahuinya, maka waktu belakangan itu dia lupa, artinya hilang kesadaran tentang sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya, karena lupa itulah maka manusia didalam Al-Qur-an disebut  “         “ secara bahasa artinya lupa, jadi manusia disebut al-Insan karena dia lupa.

Kepada yang lupa harus diingatkan, maka turun Al-Qur-an yang juga disebut  “         “ (peringatan) (lihat QS. 15:29), orang yang membawa peringatan tersebut disebut                  “              “ (QS.88:21) dengan demikain insan yang lupa itu harus diingatkan oleh Al-Qur-an, dan oleh orang yang membawakan (mengajarkan) Al-Qur-an, bahwa ia sesungguhnya telah berjanji tauhid dan amanta sebelum lahir ke dunia ini.

C. Integrasi Roh dengan jasad di Alam Rahim

Manusia pertama pertama Allah langsung dari tanah (QS. 32:7), manusia keturunan dari saripatinya, yang berproses menjadi Nuthfah, ‘alaqah, mudhgah, ‘izham, lahm, bentuk lain (QS.23:12-14), dan ketika proses pembentukan fisiknya sudah sempurna (lengkap) maka Allah tiupkan padanya roh-Nya, lalu diberi indra, pendengaran, pengelihatan, akal pikiran (QS.32:9), jadi di alam rahim terjadi persenyawaan (integrasi) antara roh dengan jasad, maka jadilah manusia yang utuh.

Dari informasi Al-Qur-an di atas, maka yang disebut manusia adalah monodualistik dari roh yang berasal dari Nur Allah, dengan jasad yang berasal dari tanah, karenanya roh bersifat suci, ghaib, dan kekal, sementara jasad kotor, tampak, dan rusak.

Kita dapat memahami, mengapa manusia ketika di dunia lupa terhadap janjinya di alam arwah, karena yang berjanji itu adalah roh, sementara di dunia sudah bersenyawa dengan jasad, yang bersifat bendawi, sehingga karenanya, jika pemenuhan kebutuhan jasadiaiah yang bersifat kebendaan lebih dominant dalam perjalanan hidup manusia, maka manusia akan semakin lupa kepada Allah, sampai pengaruh kebendaan itu hilang pada waktu mati (lihat QS. 102:1-2), sebaliknya orang yang mengakui kebenaran Al-Qur-an lalu memahaminya, berarti ia dapat memberikan santapan rohani, dan yang demikian disebut dzikir (ingat), ia tidak lupa bahkan akan memperoleh ketentraman dalam hidupnya (lihat QS. 13:28).

Pemenuhan santapan jasmani yang nilai ukurannya terletak pada uang akan dapat dirasakan oleh manusia, selama jasmani hidup, sedangkan jasmani hidup selama di dunia ini saja, maka daya guna uang akan dirasakan selama manusia hidup di dunia, berbeda dengan santapan rohani, karena roh itu kekal dan akan melanjutkan kehidupannya dari dunia sampai akhirat, sementara gambaran perbandingan hari akhirat dengan dunia, satu akhirat seperti 1000 tahun (bukan hari) dunia (QS. 22:47), karena itu orang yang mengalahkan pemenuhan santapan rohani untuk mengejar santapan jasmani, disebut kesenangan yang memperdayakan (QS. 3:185).

Hal-hal yang membuat manusia lupa terhadap perjanjiannya dengan Allah :
1.    Ambisi (angan dan lamunan)  (QS.15:2-3)
2.    Bisnis (perniagaan) (QS. 24:7-9)
3.    Harta dan Keluarga (QS. 63:9-11)
4.    Persaingan Duniawi (QS. 102:1-2)

Al-Qur-an tidak melarang hal-hal diatas untuk meraih dan memperolehnya namun, yang di larang, jangan sampai karena hal itu membuat lupa kepada Allah.

D. Hadir ke Dunia, dalam Keadaan Tidak Tahu Apa-apa dan Tidak Punya Apa-apa

Allah menyatakan bahwa semua manusia di keluarkan dari rahim ibunya oleh Allah dalam keadaan tidak tahu apa-apa (bodoh) (QS. 16:78), dan tidak punya apa-apa (miskin), kemudian Allah memberi pendengaran dan pengelihatan serta akal pikiran, dimana dengan itu semua bisa tahu apa-apa (mendapat ilmu pengetahuan), dengan ilmu dia bisa bekerja, dan menghasilkan apa-apa (Punya harta benda), dengan demikian pada hakikatnya, ilmu dan harta yang dipunyai manusia adalah pemberian semata, namun apa yang dinikmati di dunia, kelak akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah (QS. 102:8), oleh sebab itu karena semua yang kita tahu dan yang kita punya adalah titipan belaka.

Konsekuensi logisnya, jika kita pintar dan kaya raya tidak perlu menyombongkan diri, kerena kita hanya diamanati oleh Allah, sebaliknya, kalau kebetulan miskin dan bodoh , tidak perlu putus asa, karena kita diamanati sedikit-yang tentu saja pertanyaannya akan lebih ringan-melainkan justru harus bersabar dan terus bekerja keras (lihat QS. 57:23).

E. Kehidupan Dunia bagi Orang Mukmin dan bagi Orang           Kafir

Bagi orang mukmin kehidupan dunia hanyalah perjalanan yang harus dilewati sebagai wahana mencapai kehidupan hakiki (sebenarnya) di akhirat nanti, sehingga bagi mereka tidak lebih dari senda gurau dan permainan. Senda gurau berarti, bukan sebenarnya karena itu, jika ia sukses di dunia, tidak menjadikan dirinya lupa daratan, karena sukses dunia bukan sukses sebenarnya, demikian juga kalau gagal, tidak menjadikan dirinya putus asa karena, bukan kegagalan sebenarnya. Kehidupan yang sebenarnya bagi mereka adalah kehidupan akhirat, dimana disanalah yang benar akan menerima manfaat kebenaran sesungguhnya dan yang salah akan menerima akibat kesalahan sesungguhnya (QS. 29:64).

Betapapun kehidupan dunia senda gurau, bukan berarti dia harus seenaknya berbuat, sebab bagi mukmin, kehidupan dunia juga sebagai permainan, dimana masing-masing orang memerankan lakon yang harus dijalaninya dengan benar dan baik, sebab nanti akan memperoleh penilaian dari sang Maha Pengatur (sutradara) dan baik-buruknya akan memperoleh imbalannya (QS. 2:286).

Berbeda dengan orang kafir, kehidupan dunia bagi orang kafir adalah segala-galanya, mereka memperoleh dengan segala cara, tanpa menghiraukan nilai halal atau haram, kehidupan dunia bagi mereka untuk kesenangan sepuas-puasnya, dalam sisi ini mereka tak ubahnya seperti binatang (QS. 47:12), mereka kuasai ilmunya, sehingga dengan keunggulan ilmu mereka dapat menundukan sebahagian orang mukmin yang bodoh, Allah pun memperkenankan hajat dan hasrat mereka, karena Dia memberi rizki makhluk-Nya tanpa dihitung-hitung (pilih-pilih) (QS. 2:212), itulah hukum Allah tentang dunia, tapi nanti di akhirat orang bertaqwa pasti diatas mereka (QS. 2:212).

F. Sakarat Maut

1.    Terbuka, dan pandangan sangat tajam
Saat sakarat maut, pandangan terbuka dan sangat tajam (QS. 50:22) dapat melihat calon pahala yang akan diterima jika dia beramal saleh, dan calon siksa yang akan diderita jika dia beramal salah (QS. 56:83-84), orang kafir mendadak sontak beriman, karena yang didustakannya selama ini ternyata benar adanya, namun imannya tak berguna lagi (QS. 32:29).

2.    Sakarat maut orang kafir
Orang kafir minta kembali ke dunia (jangan jadi mati) dan berjanji mau beramal saleh tapi Allah tidak menggubrisnya lagi karena dulu juga (ketika dialam arwah) sudah berjanji tapi nyatanya diingkari (QS. 23:99-100). Muka dan punggung mereka dipukuli oleh malaikat, dan segala amal baik mereka (kalau pun ada) dihapus tidak bernilai sama sekali (QS. 47:27-28).

3.    Taubat, tidak diterima, minta tangguh dan janji sedekah
Orang-orang yang berdosa, karena sudah diperlihatkan calon siksa yang akan diderita, maka ketika sakarat maut bertobat, namun taubatnya tidak diterima Allah (QS. 4:18), orang yang kikir atau sedekahnya masih sedikit, meronta minta tangguh dan berjanji mau sedekah dulu dan menjadi orang yang saleh, tapi juga tidak diperkenankan Allah (QS. 63:9-11).

4.    Orang yang bertauhid dan istiqomah, disambut malaikat
Orang yang konsisiten, konsekuen dan kontinyu dengan tetap bertuhankan Allah dengan segala kesabaran dalam taqwanya, maka disambut malaikat, seraya dikatakan kepada mereka “Jangan takut dan jangan bersedih, bergembiralah dengan syurga yang Allah janjikan buat anda semua, kita bersama sejak dari dunia hingga akhirat, anda akan mendapatkan apa-apa yang nafsu anda mau dan apa-apa yang anda minta, sebagai anugrah dari Tuhan maha Pengampun dan Penyayang” (QS. 41:30-32). Selanjutnya malaikat menyambut mesra dengan mempersilahkan kembali kepangkuan Tuhan, dengan suka hati dan disukai, kelak akan dipersilahkan bergabung dengan hamba-hamba Tuhan dan kelak diseur masuk syurga-Nya(QS. 89:27-30).

G. Di alam Barzakh ada bongkahan neraka dan taman syurga

Orang yang angkuh, sombong dan angkara murka, tidak beriman kepada kepada Allah, ketika di alam barzakh, neraka dihadirkan dihadapan mereka setiap saat, baru sesudah hari qiyamat, mereka dimasukan langsung ke dalam api neraka, sebagai siksa yang lebih dahsyat (QS. 40:46), demikian sebaliknya orang yang bertaqwa, di barzakh mendapat taman syurga “                                          “ (Hadist nabi SAW), alam barzakh ini terus berlangsung sampai hari kebangkitan (Ba’ats) (QS. 23:100).

H. Hari Qiyamat dimulai dengan tiupan sangkakala pertama

Sesudah penghuni bumi tak aada lagi yang menyebut asma Allah, bumi menjerit mengadu kepada Allah, maka Allah perintahkan malaikat Israfil meniup sangkakala (terompet), maka bumi bergoncang dengan goncangan yang dahsyat (QS. 99:1-5), ibu yang menyususi melemparkan bayi yang sedang disusuinya, wanita hamil seketika melahirkan (QS. 22:1-2) manusia semua panik, tidak lagi mengenal saudaranya, ibu dan bapaknya, teman dan anaknya (QS. 80:34-36), dan akhirnya semua makhluk hidup mati kecuali yang dikehendaki Allah (QS. 39:68), raja-raja dan para  penguasa semuanya mati, tinggal Allah Maha Kuasa Tunggal (QS. 40:16), semua pemilikan makhluk diambil pemilik aslinya, Dia-lah Allah (QS. 82:18-19).

I. Ba’ats (Bangkit)
Tiupan sangkakala Israfil yang kedua, semua manusia bangkit dari kuburnya (QS. 39:68) berbondong-bondong menuju mahsyar (tempat berkumpul untuk melihat amal-amal mereka), kebajikan dan keburukan sekecil apapun akan mereka lihat (QS. 99:6-8).

J. Menerima catatan amal

Masing-masing orang akan menerima kitab catatan amal, ada yang menerima dari depan dengan tangan kanannya, dia akan diperika dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kelompoknya dengan gembira, dan ada pula yang menerima dari belakang dengan tangan kirinya, maka dia akan berteriak “aduh….celaka aku” dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala, dahulu di dunia dia berfoya-foya, dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya) padahal Tuhan selalu mengawasinya (QS. 84:7-15). Masing-masing disuruh menghitung amalnya sendiri-sendiri dengan membaca catatannya (QS. 17:13-14), orang-orang yang berdosa ketakutan melihat apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata “aduhai…celakalah kami, kitab apakah ini, yang kecil, yang besar tidak sedikitpun tertinggal, semuanya tercatat” (QS. 18:49).

K. Mizan (Timbangan)
Kami (Allah) letakkan mizan (timbangan)dengan adil, tak sedikitpun manusia dirugikan (QS. 21:47), barang siapa yang berat timbangan amal kebaikannya, maka dia dalam kehidupan yang menyenagkan, dan siapa yang ringan timbangan amal kebajikannya, tempat dia adalah neraka, yang apinya panas dan membakar (QS. 101:6-11).

L. Neraka

Orang kafir digiring ke neraka, berbondong-bondong, ketika sampai dipintunya, penjaganya berkata “Tidakkah pernah datang kepada kalian utusan Allah dari kelompok kalian yang membacakan ayat-ayat Tuhan kalian dan memberitakan adanya pertemuan ini.” Maka mereka menjawab “ya !” Tapi telah terbukti benar ketetapan siksa bagi orang-orang yang kafir (QS. 39:71-72), wajah mereka tunduk dan terhina, jungkir balik dan kepayahaan, masuk neraka yang panas, minumnya pun mendidih, makanannya pohon berduri, semakin dimakan semakin sakit, tapi lapar semakin menjadi (QS. 88:2-7).

M. Syurga

Orang-orang yang bertaqwa dihantar ke syurga berbondong-bondong, sampai dipintunya serta-merta terbuka dan penjaganya menyambut “Selamat dan berbahagia, anda-anda memang telah berbuat baik di dunia, masuklah ke syurga kekal selama-lamanya,” mereka bersukur dan berujar “Segala puji bagi Allah yang telah membuktikan kebenaran janji-Nya, dan telah benar Rasul yang menyapaikannya, kami dapat menempati syurga ini dimana pun kami mau, sungguh sebaik-baik balasan.” (QS. 39:73-74).

Wajah mereka berseri-seri, serta puas karena usahanya di dunia. Dalam syurga yang tinggi-tinggi, tidak ada perkataan sia-sia, mata air tetap mengalir, tahta-tahta yang ditinggikan, gelas-gelas yang didekatkan, bantal-bantal sandaran tersusun, dan permadani terhampar. (QS. 88:8-16).

Mengenal Manusia

Mengenal Manusia
Perjalanan manusia dari Khaliq kembali kepada sang Khalik, secara umum dalam syari’ah manusia melewati 4 alam :
1. Alam Ruh
2. Alam Rahim
3. Alam Dunia
4. Alam Akhirat

Namun kalau ditinjau dari pandangan Tasawuf (hasil renungan penulis), bahwa perjalanan manusia dari Khaliq kembali ke sang Khaliq, telah dan akan melewati 23 alam yaitu :
1. Alam Ahadimullah atau alam Zatullah dimana pada alam ini manusia berada dalam diri Allah dan belum ada sesuatu selain dirinya sendiri dan seluruh mahluk masih menyatu dengan diri Allah SWT.
2. Alam Sifatullah yaitu suatu alam dimana manusia masih berada dalam sifatnya, belum berbentuk apa-apa yang dominan adalah Sifatullah.
3. Alam Nurullah : Pada alam ini manusia masih melebur dengan Nur Allah yang nampak adalah Nur Allah SWT.
4. Alam Aqalillah Wal Qalam dimana manusia pada alam ini masih berada di dalam alam pikiran Allah dan hanya Allah yang tahu tentang perencanaan bentuk atau sosok manusia.
5. Alam Ruhillah : Dimana pada alam ini manusia telah berpisah dari Zat Allah dan berbentuk lain, sesuai dengan rencana Allah. Dan pada alam ini mahluk lain belum ada dan yang ada hanyalah ruh Muhammad dengan seluruh Ruhul Qudus atau Ruhul Amin manusia.
6. Alam Nur Muhammad : Pada alam ini seluruh Jatidiri atau Ruhul Amin manusia dipertemukan dengan pemimpin RUH yaitu Ruhil Muhammad Al Amin. Pada alam ini ruh disumpah tentang Tauhid (pertemuan langsung) antara Ruh Muhammad dengan Allah SWT, disaksikan oleh seluruh Ruhul Amin, terjadilah kesaksian pertama antara Allah dengan Muhammad (Syahadat Ruh).
7. Alam Bathin : Pada alam ini Jati diri manusia dipertemukan dengan lima anazir diri manusia yaitu : a. Nyawa (Ruhil Insan) b. Aqal (Ruhil Aqli) c. Hati (Ruhil Qalb) d. Perasaan (Ruhil Zauqiah) e. Nafsu (Ruhin Nafs) Pada alam ini terjadi kesaksian yang ke dua tentang Tauhid, antara Allah dengan Ruhil Yamin atau Jati diri manusia yang disaksikan oleh lima unsur bathin manusia “Alastu Birabbikum Qaluw Bala Syahidina”
8. Alam Sadi : Pada alam ini manusia berada di antara langit dan bumi dan merupakan pintu antara rohani dengan jasmani atau dinding pemisah antara yang ghaib dengan yang nyata. Dari alam pertama sampai alam ke delapan adalah merupakan jalur yang dilewati oleh unsur rohani manusia. Selanjutnya proses pembentukan unsur jasmani manusia mulai dari alam ke sembilan.
9. Alam Wadhi : Pada alam ini manusia berada di tanah liat (perpaduan empat anasir yaitu : Tanah, Udara (angin), Api (Cahaya), dan Air.
10. Alam Mahdi :Dimana manusia berada di mahluk hidup baik di tumbuh-tumbuhan maupun binatang, burung dan lain-lain.
11. Alam Ajisam : Dimana manusia berada di mahluk mati seperti : beras, kedelai, kopi, sayuran, dan buah-buahan yang sudah dipetik, daging, ikan, dan lain-lain. Dengan kata lain manusia berada di bahan makanan.
12. Alam Mani : Dimana manusia berada di manusia (jadi sperma atau sel telur) hasil dari saripati makanan dan minuman.
13. Alam Mani-Manikam : Dimana manusia berada dijembatan Alif ingin menyeberang ke alam Baa (Bertemunya Bapak dan Mama) dengan penuh kasih sayang.
14. Alam Rahim : Dimana manusia berada dalam kandungan Ibu (kurang lebih 9 bulan 10 hari) Di alam rahim inilah unsur rohani dipertemukan dengan unsur jasmani pada usia 4 bulan (120 hari) dalam kandungan Ibu (terjadilah kesaksian yang ke tiga kalinya pada saat unsur rohani ditiupkan ke dalam tubuh jabang bayi). Menjelang bayi menuju ke alam dunia Allah SWT datang ke sang bayi mengingatkan kembali tentang ke Tauhidan, maka terjadilah kesaksian yang ke empat kalinya sekaligus Allah menuliskan empat rahasia taqdir manusia yaitu : Kematian, Rezeki, Nasib, Jodoh.
15. Alam Dunia : Yaitu suatu alam yang merupakan wadah ujian, pengabdian dalam rangka mempertahankan fitrah serta tauhid kepada Allah SWT sebagai perwujudan tanggung jawab kekhalifaan dan kehambaan kepada Allah. Dan di alam inilah sebagai penentu selamat tidaknya seseorang dalam menempuh perjalanan alam berikutnya hingga sampai kepada sang Khaliq.
16. Alam Sakratul Maut : Yaitu suatu alam dimana antara jasmani dan rohani akan berpisah.
17. Alam Kubur : Adalah alam dimana tubuh manusia disatukan kembali ke tanah.
18. Alam Barzah : Yaitu suatu alam yang ditempati oleh para arwah seseorang yang telah meninggal.
19. Alam Khiamat (Kehancuran) : Yaitu suatu alam yang manusia rasakan kehancuran segala-galanya.
20. Alam Kebangkitan : Yaitu suatu alam dibangkitkannya kembali jasmani manusia dari kubur.
21. Alam Padang Mahsyar : Yaitu suatu alam dikumpulkannya kembali unsur rohani dan jasmani manusia untuk dimintai pertanggung jawabannya selama hidup di dunia. Di alam ini pula berlaku persidangan, penghisaban, dan pemutusan tentang selamat atau tidaknya seseorang.
22. Alam Shirath : Yaitu suatu alam titian yang harus manusia lewati sebelum memasuki Surga dan Neraka.
23. Alam Surga & Neraka : Yaitu suatu alam yang abadi, disinilah seorang hamba akan bertemu dengan Khaliqnya secara nyata. Dan sungguh beruntunglah hamba-hamba yang berjumpa dengan Allah di Surga dan sungguh merugi dan menyesallah manusia yang bertemu Allah di neraka.

Dari proses perjalanan manusia inilah dipetik hikmah :
1. Betapa mulianya manusia dipersiapkan oleh Allah sebagai Khalifah di muka bumi ini.
2. Memberi gambaran kepada kita untuk tidak merasa hina dan rendah dihadapan mahluk lain, karena unsur-unsur rohani manusia adalah merupakan ciptaan Allah yang sangat mulia melebihi mahluk lainnya.
3. Memberi pemahaman kepada kita untuk tidak menjadi sombong, congkak, dan tidak takabur terhadap sesama manusia dan mahluk lain dengan melihat perjalanan alam yang dilewati manusia, khususnya perjalanan rohani yang melewati mahluk dan unsur-unsur yang menjembatani dan memberikan andil dalam terbentuknya jasmani manusia.
4. Memberikan didikan moral kepada kita untuk mengagungkan Allah dan mentaati-Nya sebagai rasa syukur atas karuniaNya yang dilimpahkan kepada kita. Dan menumbuhkan semangat kekhalifaan untuk memakmurkan Alam di bawah keridhoan Allah SWT.
5. Manusia diciptakan oleh Allah melalui beberapa proses alam secara normal. Namun ada beberapa manusia diciptakan oleh Allah, dengan tidak melewati sepenuhnya proses perjalanan tersebut, yaitu :
a. Nabi Adam AS. Tanpa Ayah dan Ibu
b. Siti Hawa Tanpa Ibu
c. Nabi Isa AS. Tanpa Bapak